Ekonomi Zona Euro Terus Menyusut

Kamis, 04 Desember 2014 - 11:07 WIB
Ekonomi Zona Euro Terus...
Ekonomi Zona Euro Terus Menyusut
A A A
LONDON - Diskon besar-besaran gagal menghentikan kelesuan aktivitas bisnis zona euro. Kondisi ini menunjukkan ekonomi zona euro mungkin kembali menyusut pada awal 2015.

Data tersebut diungkapkan dalam hasil survei yang dilakukan Markit. “Kawasan itu tentu saja akan mengalami pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 0,1% pada kuartal IV/ 2014, dan kembali mengalami penyusutan pada tahun depan, kecuali ada peningkatan permintaan,” ungkap Chris Williamson, kepala ekonom Markit, yang menyusun hasil survei tersebut, dikutip kantor berita Reuters.

Jajak pendapat Reuters bulan lalu memprediksi pertumbuhan ekonomi 0,2% pada kuartal ini dan 0,3% pada kuartal selanjutnya. Indeks manajer pembelian gabungan (purchasing managers’ index/ PMI) akhir, berdasarkan survei ribuan perusahaan di kawasan itu dan menjadi indikator pertumbuhan, turun menjadi 51,1 dari 52,1 pada Oktober.

November merupakan bulan ke-17 di mana indeks berada di atas level 50 yang membedakan antara pertumbuhan dan penyusutan. Meski demikian, sub-indeks bisnis baru turun di bawah 50 untuk pertama kali sejak pertengahan tahun lalu, turun menjadi 49,7 dari 50,8 dan diproyeksikan terus turun pada Desember.

PMI yang mencakup industri jasa dominan di kawasan itu, turun menjadi 51,1 dari 52,3 pada Oktober. Perusahaanmengurangiharga untuk tiga tahun penuh demi meningkatkan bisnis. Indeks harga outputmencapai 47,1. Pemangkasan harga selanjutnya, digabung dengan tandatanda memburuknya kinerja ekonomi di sejumlah negara kunci, akan mendorong Bank Sentral Eropa (ECB) mengambil kebijakan untuk memulihkan ekonomi dan mencegah terjadinya deflasi.

Inflasi tahunan melemah menjadi 0,3% pada November, jauh di bawah “zona bahaya” yang ditetapkan ECB untuk kebijakan terkait harga. ECB menawarkan pinjaman murah jangka panjang pada perbankan dan membeli berbagai obligasi dan sekuritas yang didukung aset. ECB juga memiliki rencana membeli obligasi pemerintah, meski mendapat penolakan dari Jerman.

“Hasil survei menunjukkan berbagai kebijakan saat ini belum memiliki dampak besar pada bisnis atau kepercayaan konsumen di kawasan itu. Karena itu diperlukan lebih banyak langkah agresif dan perlu segera dilaksanakan, agar resesi lain dapat dihindari,” ungkap Williamson. Sementara, Uni Eropa (UE) memberi tambahan waktu tiga bulan hingga Maret pada Prancis, Italia, dan Belgia untuk membenahi anggaran mereka yang membengkak.

Meski demikian, UE memperingatkan tetap akan memberlakukansanksitegasjika ketiga negara itu gagal memangkas anggaran belanja. Ketiga negara itu disebut oleh Komisi Eropa saat mengumumkan hasil penilaian anggaran zona euro, sesuai wewenang baru yang diberikan selama krisis utang.

Syarifudin
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
1 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
1 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
1 jam yang lalu
Pjs Dirut BEI Sebut...
Pjs Dirut BEI Sebut Fundamental Pasar Saham RI Masih Bagus, Ini Buktinya
1 jam yang lalu
Pupuk Kaltim Dorong...
Pupuk Kaltim Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Beragam Program TJSL
2 jam yang lalu
Penjelasan BEI soal...
Penjelasan BEI soal MSCI Turunkan Kasta Pasar Modal RI ke Frontier Market
3 jam yang lalu
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved