Pertamina Berkomitmen Tingkatkan Produksi Gas

Kamis, 04 Desember 2014 - 11:12 WIB
Pertamina Berkomitmen...
Pertamina Berkomitmen Tingkatkan Produksi Gas
A A A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) bertekad terus mengembangkan produksi gas. Apalagi, pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi permintaan produksi gas dalam negeri meningkat.

Media Manager Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan, Pertamina telah melakukan pengamatan terkait harga jual gas yang jauh lebih murah dibanding BBM. Untuk itu, pihaknya akan mencoba memaksimalkan produksi gas domestik untuk konsumsi masyarakat.

“Saat ini pemerintah gencar melakukan kampanye konversi BBM ke BBG di berbagai kota di Indonesia. Dengan begitu, kami memperkirakan konsumsi gas Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya,” ujar dia dalam keterangan persnya di Jakarta kemarin.

Saat ini produksi minyak dan gas Pertamina mencapai 462 juta barel per hari. Produksi gas domestik Pertamina terus meningkat semenjak 2011 sebesar 111% dari proyeksi awal. Namun, persoalan yang masih menjadi perdebatan adalah mengenai hak impor gas. Hak impor gas seharusnya dipegang oleh satu badan yang memiliki hak atas pengelolaan sumber daya migas nasional dalam hal ini Pertamina.

“Ini bukan dianggap sebagai tindak monopoli melainkan dalam usaha mengontrol dan mengurangi ketergantungan impor gas untuk konsumsi dalam negeri,” ujar dia. Menurutnya, sekalipun saat ini ada lini blok migas yang menjadi tulang punggung gas nasional, namun kemungkinan kesenjangan pasokan dan permintaan dapat membuat Indonesia harus melakukan impor gas. Impor gas harus dikontrol oleh Pertamina untuk menghindari permainan harga yang dapat melahirkan mafia gas di masa depan.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari mengatakan, pemerintah harus memberikan perhatian khusus di bidang migas. Dalam jangka pendek, demi menyediakan energi untuk konsumsi masyarakat dalam jangka menengah dan panjang, pemerintah harus mencari energi alternatif seperti gas.

Sementera, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, tradertrader migas sebaiknya dihapuskan dan membuat sistem pembelian minyak secara business to business. Selain itu, pemerintah harus bisa memberantas mafia migas seperti yang ramai diperbincangkan sejumlah kalangan.

Dia menyinyalir, krisis listrik di beberapa daerah seperti yang terjadi di Kabupaten Bangkalan selama tujuh tahun terakhir akibat praktik korupsi dan mafia migas yang melibatkan mantan bupati setempat. Mamit menilai, praktik tersebut akibat hak alokasi gas BUMD setempat diselewengkan oleh para pemburu rente.

Yanto kusdiantono
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
2 jam yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
4 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
5 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
15 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
15 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
16 jam yang lalu
Infografis
15 Jurusan UI yang Sepi...
15 Jurusan UI yang Sepi Peminat, Referensi Tingkatkan Peluang Lolos SNBP 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved