Jika Volume Beli Minim, IHSG Berpotensi Terkoreksi
Selasa, 09 Desember 2014 - 08:44 WIB
Jika Volume Beli Minim, IHSG Berpotensi Terkoreksi
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan memiliki potensi untuk kembali terkoreksi karena masih maraknya aksi ambil untung (profit taking), imbas proyeksi Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan volume beli di pasar.
Kepala Riset PT Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, IHSG membentuk pola bearish engulfing menuju bawah area middle bollinger band (MBB). MACD cenderung membentuk death gross dengan histogram positif yang lebih pendek. RSI, Stochastic, dan William’s %R cenderung turun.
"Selain masih adanya aksi profit taking, berita dari World Bank tersebut kemungkinan masih akan berimbas pada pergerakan IHSG selanjutnya. Jika volume beli kurang mendukung maka dimungkinkan laju IHSG masih akan melanjutkan pelemahannya," kata dia, Selasa (9/12/2014).
Dia memprediksi, IHSG akan berada pada rentang support 5.100-5.115 dan resisten 5.155-5.164. Sementara laju IHSG kemarin sempat berada di target resisten 5.194-5.211, namun tidak kuat dan berbalik turun dan bahkan berada di bawah kisaran area target support 5.165-5.178.
Kemarin, meski laju bursa saham Amerika Serikat (AS) dan Eropa bergerak positif dan memberikan imbas yang baik pada laju bursa saham Asia, namun IHSG tidak merasakan imbas tersebut. Keinginan untuk profit taking dengan memanfaatkan masih berlangsungnya tren penguatan IHSG membuat laju IHSG kembali tertekan.
"Akibatnya, laju IHSG bergerak berlainan dengan laju bursa saham lainnya. Tren penguatan pun terpatahkan dengan tertembusnya target support yang seharusnya dapat ditahan oleh IHSG," ujar dia.
Belum lagi maraknya pemberitaan dipangkasnya proyeksi pertumbuhan Indonesia oleh Bank Dunia, di mana untuk tahun 2015 hanya akan di level 5,2% dari perkiraan sebelumnya 5,6%. Tidak hanya memangkas pertumbuhan ekonomi, Bank Dunia juga tidak tanggung-tanggung turut memangkas pertumbuhan kredit dan laju neraca perdagangan.
IHSG yang sempat kembali menyentuh level 5.200an lebih, kembali tidak kuat dan kembali menurun. Adapun transaksi asing tercatat nett sell dari net sell Rp737,03 miliar menjadi net sell Rp391,81 miliar.
Kepala Riset PT Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, IHSG membentuk pola bearish engulfing menuju bawah area middle bollinger band (MBB). MACD cenderung membentuk death gross dengan histogram positif yang lebih pendek. RSI, Stochastic, dan William’s %R cenderung turun.
"Selain masih adanya aksi profit taking, berita dari World Bank tersebut kemungkinan masih akan berimbas pada pergerakan IHSG selanjutnya. Jika volume beli kurang mendukung maka dimungkinkan laju IHSG masih akan melanjutkan pelemahannya," kata dia, Selasa (9/12/2014).
Dia memprediksi, IHSG akan berada pada rentang support 5.100-5.115 dan resisten 5.155-5.164. Sementara laju IHSG kemarin sempat berada di target resisten 5.194-5.211, namun tidak kuat dan berbalik turun dan bahkan berada di bawah kisaran area target support 5.165-5.178.
Kemarin, meski laju bursa saham Amerika Serikat (AS) dan Eropa bergerak positif dan memberikan imbas yang baik pada laju bursa saham Asia, namun IHSG tidak merasakan imbas tersebut. Keinginan untuk profit taking dengan memanfaatkan masih berlangsungnya tren penguatan IHSG membuat laju IHSG kembali tertekan.
"Akibatnya, laju IHSG bergerak berlainan dengan laju bursa saham lainnya. Tren penguatan pun terpatahkan dengan tertembusnya target support yang seharusnya dapat ditahan oleh IHSG," ujar dia.
Belum lagi maraknya pemberitaan dipangkasnya proyeksi pertumbuhan Indonesia oleh Bank Dunia, di mana untuk tahun 2015 hanya akan di level 5,2% dari perkiraan sebelumnya 5,6%. Tidak hanya memangkas pertumbuhan ekonomi, Bank Dunia juga tidak tanggung-tanggung turut memangkas pertumbuhan kredit dan laju neraca perdagangan.
IHSG yang sempat kembali menyentuh level 5.200an lebih, kembali tidak kuat dan kembali menurun. Adapun transaksi asing tercatat nett sell dari net sell Rp737,03 miliar menjadi net sell Rp391,81 miliar.
(rna)
Lihat Juga :