Keuangan XL Masih Tertekan hingga Akhir Tahun
Selasa, 16 Desember 2014 - 10:19 WIB
Keuangan XL Masih Tertekan hingga Akhir Tahun
A
A
A
JAKARTA - PT XL Axiata Tbk (EXCL) menyatakan, hingga akhir tahun ini neraca keuangan perseroan masih dalam tekanan.
Kondisi tersebut imbas dari pembelian saham PT Axis Telekom Indonesia (Axis). Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi mengatakan, hingga awal Desember 2014 layanan data perusahaan masih belum mendapatkan margin yang ideal. Perseroan masih mengalami rugi sekitar 10-15%, khusus untuk layanan data.
”Kinerja sepertinya masih tertekan hingga akhir tahun ini. Apalagi, layanan data kita masih belum dapatkan margin yang ideal. Bayangkan, biaya produksinya 30.000 perGB, kitajualnya 6.000perGB,” kataHasnulkepada sejumlahmedia di Jakarta, kemarin. Dalam sembilan bulan pertama 2014 emiten operator telekomunikasi tersebut mengalami kerugian sebesar Rp901 miliar, berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu dengan keuntungan Rp917 miliar.
Pemicu terbesarnya yaitu anak usaha Axiata Ltd ini terkena dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sehingga mengalami rugi kurs yang cukup tinggi. Selain itu, hingga kuartal III/ 2014 perseroan memiliki utang sebesar USD1,596 miliar dan Rp11,05 triliun. Total utang yang dimiliki sekitar Rp30,413 triliun hingga tutup September 2014 mengakibatkan peningkatan hutang bersih/EBITDA dari 1.8x menjadi 3.2x.
Dengan demikian, ungkap Hasnul, XL harus menebus 100% saham Axis awal tahun ini dengan nilai USD865 juta, di mana pasokannya dari utang dari Axiata atau perbankan. Menurut Hasnul, pekerjaan rumah lainnya yang harus dibereskan perseroan adalah menekan penurunan margin EBITDA.
”Kami upayakan efisiensi 30-40 belanja operasional tahun depan. Kita harapkan, BTS Sharing sudah ada aturan, ini bisa menghemat operasional,” katanya. Terkait dengan posisi utang bersih/EBITDA, Hasnul optimistis bisa ditekan di bawah tiga kali jika pembayaran 3.500 menara senilai Rp5,6 triliun dari PT Solusi Tunas Pratama Tbk masuk pada bulan ini.
”Dana itu masuk sudah cukup untuk bayar utang. Saat ini belum ada rencana untuk akses pinjaman baru lagi atau kembali melepas menara,” imbuhnya. Secara terpisah, Direktur Service Manajemen XL Axiata Ongki Kurniawan mengatakan, perseroan terus menyiapkan ekosistem layanan data 4G sebelum meluncurkannya secara komersial pada bulan ini.
Hal ini dilakukan perseroan dengan mendorong para pengembang aplikasi lokal (local developer ) agar mereka mulai mempersiapkan aplikasi dan kontenkonten lokal yang berbasis pada pemanfaatan teknologi.
Heru febrianto
Kondisi tersebut imbas dari pembelian saham PT Axis Telekom Indonesia (Axis). Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi mengatakan, hingga awal Desember 2014 layanan data perusahaan masih belum mendapatkan margin yang ideal. Perseroan masih mengalami rugi sekitar 10-15%, khusus untuk layanan data.
”Kinerja sepertinya masih tertekan hingga akhir tahun ini. Apalagi, layanan data kita masih belum dapatkan margin yang ideal. Bayangkan, biaya produksinya 30.000 perGB, kitajualnya 6.000perGB,” kataHasnulkepada sejumlahmedia di Jakarta, kemarin. Dalam sembilan bulan pertama 2014 emiten operator telekomunikasi tersebut mengalami kerugian sebesar Rp901 miliar, berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu dengan keuntungan Rp917 miliar.
Pemicu terbesarnya yaitu anak usaha Axiata Ltd ini terkena dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sehingga mengalami rugi kurs yang cukup tinggi. Selain itu, hingga kuartal III/ 2014 perseroan memiliki utang sebesar USD1,596 miliar dan Rp11,05 triliun. Total utang yang dimiliki sekitar Rp30,413 triliun hingga tutup September 2014 mengakibatkan peningkatan hutang bersih/EBITDA dari 1.8x menjadi 3.2x.
Dengan demikian, ungkap Hasnul, XL harus menebus 100% saham Axis awal tahun ini dengan nilai USD865 juta, di mana pasokannya dari utang dari Axiata atau perbankan. Menurut Hasnul, pekerjaan rumah lainnya yang harus dibereskan perseroan adalah menekan penurunan margin EBITDA.
”Kami upayakan efisiensi 30-40 belanja operasional tahun depan. Kita harapkan, BTS Sharing sudah ada aturan, ini bisa menghemat operasional,” katanya. Terkait dengan posisi utang bersih/EBITDA, Hasnul optimistis bisa ditekan di bawah tiga kali jika pembayaran 3.500 menara senilai Rp5,6 triliun dari PT Solusi Tunas Pratama Tbk masuk pada bulan ini.
”Dana itu masuk sudah cukup untuk bayar utang. Saat ini belum ada rencana untuk akses pinjaman baru lagi atau kembali melepas menara,” imbuhnya. Secara terpisah, Direktur Service Manajemen XL Axiata Ongki Kurniawan mengatakan, perseroan terus menyiapkan ekosistem layanan data 4G sebelum meluncurkannya secara komersial pada bulan ini.
Hal ini dilakukan perseroan dengan mendorong para pengembang aplikasi lokal (local developer ) agar mereka mulai mempersiapkan aplikasi dan kontenkonten lokal yang berbasis pada pemanfaatan teknologi.
Heru febrianto
(ars)