Mandiri Perkirakan Rupiah Tahun Depan Rp11.800/USD
Selasa, 23 Desember 2014 - 17:47 WIB
Mandiri Perkirakan Rupiah Tahun Depan Rp11.800/USD
A
A
A
JAKARTA - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada 2015 akan berada di kisaran Rp11.800/USD.
Ekonom PT Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, penguatan rupiah pada tahun depan rata-rata berkisar Rp11.800 per USD sepanjang 2015.
"Kita optimis rupiah akan menguat lantaran prediksi defisit neraca perdagangan berjalan akan terus mengecil," terang dia dalam acara Mandiri Economic Outlook di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (23/12/2014).
Pihaknya memperkirakan nilai current account deficit (CAD) sebesar 2,8% dari GDP. "Ini lebih rendah dari 2014, kemungkinan tutup tahun sekitar 3,1%," jelas Andry.
Lebih rendahnya CAD ini didorong kebijakan pemerintah terkait pemotongan subsidi BBM yang memberikan tambahan funding bagi sektor-sektor produktif.
Pemotongan subsidi ini, lanjut dia, akan berimbas pada pengurangan kuota impor karena memperkecil terjadinya penyelundupan BBM ke luar negeri akibat harga yang timpang.
"Saat ini harga BBM sudah mendekati harga normal di pasar internasional. Jadi, konsumsi dari penyelundupan bisa berkurang, sehingga konsumsi domestik dari impor bisa ditekan sekitar USD12 miliar," pungkasnya.
Ekonom PT Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, penguatan rupiah pada tahun depan rata-rata berkisar Rp11.800 per USD sepanjang 2015.
"Kita optimis rupiah akan menguat lantaran prediksi defisit neraca perdagangan berjalan akan terus mengecil," terang dia dalam acara Mandiri Economic Outlook di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (23/12/2014).
Pihaknya memperkirakan nilai current account deficit (CAD) sebesar 2,8% dari GDP. "Ini lebih rendah dari 2014, kemungkinan tutup tahun sekitar 3,1%," jelas Andry.
Lebih rendahnya CAD ini didorong kebijakan pemerintah terkait pemotongan subsidi BBM yang memberikan tambahan funding bagi sektor-sektor produktif.
Pemotongan subsidi ini, lanjut dia, akan berimbas pada pengurangan kuota impor karena memperkecil terjadinya penyelundupan BBM ke luar negeri akibat harga yang timpang.
"Saat ini harga BBM sudah mendekati harga normal di pasar internasional. Jadi, konsumsi dari penyelundupan bisa berkurang, sehingga konsumsi domestik dari impor bisa ditekan sekitar USD12 miliar," pungkasnya.
(izz)