China Hapus Kuota Mineral Langka

Selasa, 06 Januari 2015 - 10:54 WIB
China Hapus Kuota Mineral...
China Hapus Kuota Mineral Langka
A A A
BEIJING - China menerapkan sistem izin ekspor untuk logam mineral langka yang digunakan dalam produk teknologi tinggi seperti smartphone.

Langkah ini sebagai penghapusan kebijakan kuota ekspor. China merupakan produsen 90% mineral langka secara global, mencakup 18 jenis logam penting untuk produksi smartphone, baterai mobil hibrida, turbin angin, baja, dan lampu hemat energi. “Izin ekspor akan diwajibkan, tapi akan dikeluarkan saat kontrak dagang sah diajukan,” ungkap pernyataan Kementerian Perdagangan China, dikutip kantor berita AFP.

“Pada saat yang sama, otoritas China menghapus sistem kuota yang menjadi pusat gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO),” papar laporan Shanghai Securities News yang dikelola pemerintah, kemarin. Total ekspor China tidak pernah mencapai batas kuota, tapi China kalah dalam sengketa jangka panjang itu saat WTO memutuskan pada Agustus bahwa sistem itu melanggar aturan perdagangan global.

Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), dan Jepang mengajukan komplain bahwa China membatasi ekspor untuk menaikkan harga mineral langka di pasar global. Isi komplain juga menyebutkan, kuota itu didesain untuk mendapat keuntungan pasar untuk para produsen domestik dengan akses lebih murah ke bahan mentah.

Sementara itu, aktivitas manufaktur China menyusut pada Desember, sesuai data terbaru indeks manajer pembelian (purchasing managers’ index /PMI) yang dirilis HSBC akhir bulan lalu. Penyusutan aktivitas manufaktur itu terjadi saat China menghadapi masalah domestik. “PMI akhir pada Desember sebesar 49,6,” ungkap pernyataan HSBC, dikutip kantor berita AFP .

Jumlah tersebut naik dari data awal 49,5 tapi masih berada pada level terendah dalam tujuh bulan. Ini merupakan penyusutan pertama yang terjadi sejak Mei sebesar 49,4. Nilai di atas 50 menunjukkan pertumbuhan dan di bawah 50 berarti penyusutan. PMI yang dikompilasikan oleh penyedia jasa informasi Markit itu melacak aktivitas di pabrik dan workshop China.

PMI menjadi indikator kunci kesehatan raksasa ekonomi Asia yang menjadi penggerak utama pertumbuhan global tersebut. “Data itu mengonfirmasi penurunan selanjutnya di sektor manufaktur hingga akhir tahun 2014,” kata Qu Hongbin, ekonom HSBC di Hong Kong.

“Penurunan diakibatkan lemahnya permintaan domestik saat pesanan baru berkurang untuk pertama kali sejak April 2014.”

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
7 menit yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
15 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
32 menit yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
1 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
2 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved