Harga Gas Indonesia Lebih Mahal dari Malaysia
Rabu, 07 Januari 2015 - 12:46 WIB
Harga Gas Indonesia Lebih Mahal dari Malaysia
A
A
A
JAKARTA - Industri pengguna gas bumi mengeluhkan harga gas di Indonesia lebih mahal dibanding harga gas di Malaysia dan Singapura.
Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Achmad Safiun mengatakan, harga gas bumi Indonesia mencapai USD10,2 per mmbtu.
"Setelah ada regasifikasi, harganya menjadi USD17,5-USD18 per mmbtu," ujarnya di Hotel Atlet, Jakarta, Rabu (7/1/2015).
Dia mengatakan, harga gas Bumi di Singapura hanya USD3,06-USD3,87 per mmbtu. Sementara di Malaysia, harga gasnya USD2,87-USD3,58 per mmbtu. Bahkan, gas yang dijual ke perusahaan listrik Malaysia hanya seharga USD3,56 per mmbtu.
"Bandingkan kita, PLN membeli gas seharga USD17 per mmbtu. Itu ada yang enggak benar. Apa pun yang terjadi itu bebannya jatuh ke pelanggan yang di hilir," imbuh dia.
Achmad menuturkan, pemerintah sudah saatnya membenahi sistem tata kelola migas di Tanah Air. Menurutnya, saat ini pun menjadi momentum tepat melakukan pembenahan, seiring turunnya harga minyak dunia.
"Seharusnya kebijakan agar energi umumnya dan gas bumi khususnya, diperlakukan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, bukan sebagai komoditi pemungut revenue," pungkasnya.
Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Achmad Safiun mengatakan, harga gas bumi Indonesia mencapai USD10,2 per mmbtu.
"Setelah ada regasifikasi, harganya menjadi USD17,5-USD18 per mmbtu," ujarnya di Hotel Atlet, Jakarta, Rabu (7/1/2015).
Dia mengatakan, harga gas Bumi di Singapura hanya USD3,06-USD3,87 per mmbtu. Sementara di Malaysia, harga gasnya USD2,87-USD3,58 per mmbtu. Bahkan, gas yang dijual ke perusahaan listrik Malaysia hanya seharga USD3,56 per mmbtu.
"Bandingkan kita, PLN membeli gas seharga USD17 per mmbtu. Itu ada yang enggak benar. Apa pun yang terjadi itu bebannya jatuh ke pelanggan yang di hilir," imbuh dia.
Achmad menuturkan, pemerintah sudah saatnya membenahi sistem tata kelola migas di Tanah Air. Menurutnya, saat ini pun menjadi momentum tepat melakukan pembenahan, seiring turunnya harga minyak dunia.
"Seharusnya kebijakan agar energi umumnya dan gas bumi khususnya, diperlakukan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, bukan sebagai komoditi pemungut revenue," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :