Penyebab Rupiah Makin Terdepresiasi
Rabu, 07 Januari 2015 - 15:12 WIB
Penyebab Rupiah Makin Terdepresiasi
A
A
A
JAKARTA - Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) David Samual mengatakan, rupiah kembali terdepresiasi kembali karena banyak sentimen negatif, mulai dari di Eropa menjelang pemilu Yunani pada akhir bulan ini serta wacana hengkangnya Yunani dari zona Eropa.
"Nah wacana ini menimbulkan sentimen negatif ke euro dan euronya melemah," kata David, Rabu (7/1/2015).
Selain itu, ada wacana Bank Sentral Eropa pada akhir bulan ini mulai melakukan kuantitatif easing atau pembelian obligasi negara di Eropa, sehingga mendorong likuiditas euro, sehingga menimbulkan tekanan ke euro.
Dia memerkirakan, rupiah hingga pertengahan tahun ini masih akan tertekan cukup kuat, terutama dengan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed (Fed rate).
"Kalau saat ini, tekanannya masih kuat. Kecendrungan masih ada tekanan. Misalnya nanti ada rating upgrade karena risiko fiskal yang menurun, itu rupiah bisa menguat ke arah Rp12.000," prediksi dia.
Rupiah juga bisa terus menguat jika persoalan defisit transaksi berjalan bisa diperbaiki. Kemudian, reformasi kebijakan struktural juga terus dilanjutkan, dan investasi makin membaik. Selain itu, hasil ekspor harus benar-benar masuk ke dalam negeri.
"Selama ini, karena aturannya kita devisa bebas hasil ekspor banyak ditaruh di luar negeri. Ini bagaimana supaya benar-benar masuk di dalam negeri, sehingga hasil eksploitasi terutama komoditas atau SDA kita bisa masuk devisanya ke dalam negeri," terang dia.
"Nah wacana ini menimbulkan sentimen negatif ke euro dan euronya melemah," kata David, Rabu (7/1/2015).
Selain itu, ada wacana Bank Sentral Eropa pada akhir bulan ini mulai melakukan kuantitatif easing atau pembelian obligasi negara di Eropa, sehingga mendorong likuiditas euro, sehingga menimbulkan tekanan ke euro.
Dia memerkirakan, rupiah hingga pertengahan tahun ini masih akan tertekan cukup kuat, terutama dengan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed (Fed rate).
"Kalau saat ini, tekanannya masih kuat. Kecendrungan masih ada tekanan. Misalnya nanti ada rating upgrade karena risiko fiskal yang menurun, itu rupiah bisa menguat ke arah Rp12.000," prediksi dia.
Rupiah juga bisa terus menguat jika persoalan defisit transaksi berjalan bisa diperbaiki. Kemudian, reformasi kebijakan struktural juga terus dilanjutkan, dan investasi makin membaik. Selain itu, hasil ekspor harus benar-benar masuk ke dalam negeri.
"Selama ini, karena aturannya kita devisa bebas hasil ekspor banyak ditaruh di luar negeri. Ini bagaimana supaya benar-benar masuk di dalam negeri, sehingga hasil eksploitasi terutama komoditas atau SDA kita bisa masuk devisanya ke dalam negeri," terang dia.
(rna)
Lihat Juga :