Harga BBM Turun, BI Perkirakan Inflasi Januari Rendah
Sabtu, 24 Januari 2015 - 12:37 WIB
Harga BBM Turun, BI Perkirakan Inflasi Januari Rendah
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan, inflasi pada bulan Januari rendah. Adapun, inflasi di minggu ketiga bulan Januari tercatat berada pada kisaran 0,07-0,1%.
“Ini artinya, kita melihat dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang dua kali itu, pada 1 Januari dan 19 Januari 2015,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Gedung BI, Jakarta, kemarin. Menurut Agus, turunnya harga BBM dan elpiji langsung berdampak pada inflasi. Lebih lanjut, harga beberapa bahan pangan yang kerap naik-turun (volatile food ) dalam tiga bulan terakhir, khususnya cabai, sudah mengalami deflasi.
Namun, BI mencatat harga daging ayam dan telur masih cenderung meningkat. “Jadi, secara umumIndonesia masih harus menjaga inflasi agar tetap terkendali,” imbuhnya. Lebih lanjut BI berharap, neraca perdagangan pada bulan Desember 2014 lalu bisa surplus dan terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Dengan begitu, tahun ini BI berharap, transaksi berjalan bisa lebih sehat, sehingga fundamental ekonomi Indonesia pun menjadi semakin kuat.
“Jadi, saya ingin sampaikan mungkin neraca perdagangan Desember 2014 baik dan akan surplus. Dan, masuk ke 2015 situasi Indonesia cukup baik, kita tinggal pertahankan agar yang baik ini bisa ditingkatkan,” ujarnya. Presiden Joko Widodo sebelumnya meminta pemerintah daerah tingkat kabupaten untuk menekan inflasi dan membantu mendorong laju pertumbuhan.
Kepala Negara menegaskan, laju pertumbuhan ekonomi dan turunnya angka inflasi secara nasional dapat dicapai dengan bantuan langsung dari daerah. Instruksi tersebut disampaikan Presiden dalam pertemuan dengan bupati seluruh Indonesia barubaru ini. Rapat koordinasi ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden pada acara Musrenbangnas RPJMN Tahun 2015-2019 yang diselenggarakan 18 Desember lalu.
Daerah apa pun, namanya pertumbuhan nasional itu, berangkatnya ditopang dari pertumbuhan ekonomi daerah. Saya sampaikan (kepada seluruh kepala daerah) trik-trik praktis untuk menekan inflasi daerah lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah,” ujar Presiden.
Terkait inflasi, pengamat ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi Manado Agus Tony Poputra mengatakan, tingkat inflasi yang tinggi tahun lalu disebabkan oleh dorongan faktor biaya karena kenaikan harga BBM subsidi. Dalam kondisi tersebut, semestinya pemerintah melakukan kebijakan dari sisi suplai untuk mendorong pasokan barang di pasar.
“Bukan malah melalui kebijakan moneter BI dengan menaikkan BI Rate . Ini akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Terbukti, tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah,” kata Agus. Menurut dia, pada Januari 2015 ini diperkirakan akan terjadi inflasi negatif atau deflasi terkait penurunan harga BBM dan harga bahan makanan.
Sehingga, jika BI mempertahankan BI Rate pada tingkat yang tinggi saat kondisi potensi inflasi rendah, maka saat terjadi inflasi tinggi, BI bisa kehilangan ruang untuk menaikkan kembali BI Rate karena sudah terlampau tinggi. “Kebijakan untuk mempertahankanBI Rate yangtinggi saat laju inflasi cenderung melemah merupakan keputusan yang kurang bijak,” tandasnya.
Kunthi fahmar sandy
“Ini artinya, kita melihat dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang dua kali itu, pada 1 Januari dan 19 Januari 2015,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Gedung BI, Jakarta, kemarin. Menurut Agus, turunnya harga BBM dan elpiji langsung berdampak pada inflasi. Lebih lanjut, harga beberapa bahan pangan yang kerap naik-turun (volatile food ) dalam tiga bulan terakhir, khususnya cabai, sudah mengalami deflasi.
Namun, BI mencatat harga daging ayam dan telur masih cenderung meningkat. “Jadi, secara umumIndonesia masih harus menjaga inflasi agar tetap terkendali,” imbuhnya. Lebih lanjut BI berharap, neraca perdagangan pada bulan Desember 2014 lalu bisa surplus dan terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Dengan begitu, tahun ini BI berharap, transaksi berjalan bisa lebih sehat, sehingga fundamental ekonomi Indonesia pun menjadi semakin kuat.
“Jadi, saya ingin sampaikan mungkin neraca perdagangan Desember 2014 baik dan akan surplus. Dan, masuk ke 2015 situasi Indonesia cukup baik, kita tinggal pertahankan agar yang baik ini bisa ditingkatkan,” ujarnya. Presiden Joko Widodo sebelumnya meminta pemerintah daerah tingkat kabupaten untuk menekan inflasi dan membantu mendorong laju pertumbuhan.
Kepala Negara menegaskan, laju pertumbuhan ekonomi dan turunnya angka inflasi secara nasional dapat dicapai dengan bantuan langsung dari daerah. Instruksi tersebut disampaikan Presiden dalam pertemuan dengan bupati seluruh Indonesia barubaru ini. Rapat koordinasi ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden pada acara Musrenbangnas RPJMN Tahun 2015-2019 yang diselenggarakan 18 Desember lalu.
Daerah apa pun, namanya pertumbuhan nasional itu, berangkatnya ditopang dari pertumbuhan ekonomi daerah. Saya sampaikan (kepada seluruh kepala daerah) trik-trik praktis untuk menekan inflasi daerah lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah,” ujar Presiden.
Terkait inflasi, pengamat ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi Manado Agus Tony Poputra mengatakan, tingkat inflasi yang tinggi tahun lalu disebabkan oleh dorongan faktor biaya karena kenaikan harga BBM subsidi. Dalam kondisi tersebut, semestinya pemerintah melakukan kebijakan dari sisi suplai untuk mendorong pasokan barang di pasar.
“Bukan malah melalui kebijakan moneter BI dengan menaikkan BI Rate . Ini akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Terbukti, tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah,” kata Agus. Menurut dia, pada Januari 2015 ini diperkirakan akan terjadi inflasi negatif atau deflasi terkait penurunan harga BBM dan harga bahan makanan.
Sehingga, jika BI mempertahankan BI Rate pada tingkat yang tinggi saat kondisi potensi inflasi rendah, maka saat terjadi inflasi tinggi, BI bisa kehilangan ruang untuk menaikkan kembali BI Rate karena sudah terlampau tinggi. “Kebijakan untuk mempertahankanBI Rate yangtinggi saat laju inflasi cenderung melemah merupakan keputusan yang kurang bijak,” tandasnya.
Kunthi fahmar sandy
(bbg)