Wall Street Jatuh Dipicu Data Pekerjaan AS

Sabtu, 07 Februari 2015 - 09:30 WIB
Wall Street Jatuh Dipicu...
Wall Street Jatuh Dipicu Data Pekerjaan AS
A A A
NEW YORK - Indeks saham Wall Street jatuh pada perdagangan Jumat waktu setmpat karena data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih baik dari perkiraan.

Hal itu meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya pada pertengahan tahun. Selain itu, kekhawatiran baru atas negosiasi utang Yunani menambah tekanan di Wall Street.

Sektor utilitas di indeks S&P 500 (SPLRCU) turun 4,1%, penurunan harian terbesar sejak Agustus 2011. Sementtara sektor keuangan (SPSY) yang cenderung mendapatkan keuntungan dari kenaikan suku bunga, naik 0,7%.

Namun, tiga indeks utama telah mencatat kenaikan tertinggi selama sepekan, dengan Dow naik 3,8%, keuntungan mingguan terbesar sejak Januari 2013.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, data upah meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan Januari, dengan jumlah pekerjaan naik tajam. Tingkat pengangguran hanya naik tipis 5,7% akibat meningkatnya angkatan kerja.

Setelah laporan tersebut, para pedagang berspekulasi bahwa bank sentral AS akan mulai menaikkan suku bunga pada pertengahan tahun ini.

"Dengan laporan kerja lebih kuat dari yang diantisipasi, ada yang memperkirakan bahwa Fed akan lebih awal menikan suku bunganya. Kita telah melihat sektor keuangan yang membaik dan sektor utilitas memburuk karena suku bunga," kata Wakil Presiden di BB & T Wealth Management Bucky Hellwig seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (6/2/2015).

Dow Jones Industrial Average ditutup turun 60,59 poin atau 0,34% ke 17.824,29; indeks S&P 500 kehilangan 7,05 poin atau 0,34% ke 2.055,47; dan Nasdaq Composite turun 20,70 poin atau 0,43% ke 4.744,40.

Sekitar 7,7 miliar saham ditransaksikan di bursa AS, turun dibandingkan rata-rata selama lima hari perdagangan sebanyak 7,9 miliar.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
6 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
6 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
7 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
7 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
7 jam yang lalu
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
8 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved