LPS Imbau Bank Hati-hati dalam Menyalurkan Kredit
Kamis, 12 Februari 2015 - 06:15 WIB
LPS Imbau Bank Hati-hati dalam Menyalurkan Kredit
A
A
A
JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengimbau perbankan berhati-hati dalam penyaluran kredit pada tahun ini. Sebab, masih banyak tantangan dari dalam dan luar negeri yang dapat mengganggu kredit.
"Untuk di luar negeri, kita tahu Fed (bank sentral AS) akan ada kenaikan suku bunga. Itu harus dicermati benar," ujar Kepala Divisi Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS, M Doddy Ariefianto di Jakarta, Rabu (11/2/2015).
Sementara dalam negeri, lanjut dia, Indonesia masih mengalami penurunan investasi. Menurutnya, penurunan pertumbuhan ekonomi pada akhir 2014 disebabkan penurunan investasi. "Investasi ini membutuhkan kejelasan-kejelasan kebijakan bukan sekadar terobosan," jelasnya.
Doddy menyebutkan, kebijakan pemerintah yang menurunkan harga BBM pada Januari 2015 lalu dinilai sudah cukup baik. Namun, penurunan harga BBM tersebut harus diikuti dengan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, apabila subsidi BBM bisa digunakan untuk hal yang lebih produktif maka dapat menguntungkan Indonesia. "Orang sudah menunggu penurunan subsidi BBM. Ini sudah kejadian dan diacungkan jempol. Nah, tapi tidak butuh penurunan BBM saja. Orang-orang juga butuh infrastruktur. Meskipun BBM murah tapi kalau jalanan hancur semua ya gimana?" terangnya.
Selain itu, kredit perbankan yang mayoritas terkait dengan perdagangan masih mencemaskan, lantaran ada kenaikan NPL (non-performing loans). Bahkan, banyak penyaluran kredit perbankan yang masuk ke sektor perdagangan (trading) perlu mendapat perhatian lebih.
Menurutnya, kenaikan NPL di sektor perdagangan dan manufaktur turut terpengaruh turunnya kinerja ekspor Indonesia. "Mining dan agrikultur sudah lama karena kinerja ekspor turun. New comer manufaktur dan trading mencemaskan karena ini trading pangsa pasar 20% baik di PDB dan kredit,” paparnya.
Meski demikian, LPS optimistis pertumbuhan kredit tahun ini bisa naik sekitar 14,2% dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sekitar 11,5%.
"Untuk di luar negeri, kita tahu Fed (bank sentral AS) akan ada kenaikan suku bunga. Itu harus dicermati benar," ujar Kepala Divisi Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS, M Doddy Ariefianto di Jakarta, Rabu (11/2/2015).
Sementara dalam negeri, lanjut dia, Indonesia masih mengalami penurunan investasi. Menurutnya, penurunan pertumbuhan ekonomi pada akhir 2014 disebabkan penurunan investasi. "Investasi ini membutuhkan kejelasan-kejelasan kebijakan bukan sekadar terobosan," jelasnya.
Doddy menyebutkan, kebijakan pemerintah yang menurunkan harga BBM pada Januari 2015 lalu dinilai sudah cukup baik. Namun, penurunan harga BBM tersebut harus diikuti dengan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, apabila subsidi BBM bisa digunakan untuk hal yang lebih produktif maka dapat menguntungkan Indonesia. "Orang sudah menunggu penurunan subsidi BBM. Ini sudah kejadian dan diacungkan jempol. Nah, tapi tidak butuh penurunan BBM saja. Orang-orang juga butuh infrastruktur. Meskipun BBM murah tapi kalau jalanan hancur semua ya gimana?" terangnya.
Selain itu, kredit perbankan yang mayoritas terkait dengan perdagangan masih mencemaskan, lantaran ada kenaikan NPL (non-performing loans). Bahkan, banyak penyaluran kredit perbankan yang masuk ke sektor perdagangan (trading) perlu mendapat perhatian lebih.
Menurutnya, kenaikan NPL di sektor perdagangan dan manufaktur turut terpengaruh turunnya kinerja ekspor Indonesia. "Mining dan agrikultur sudah lama karena kinerja ekspor turun. New comer manufaktur dan trading mencemaskan karena ini trading pangsa pasar 20% baik di PDB dan kredit,” paparnya.
Meski demikian, LPS optimistis pertumbuhan kredit tahun ini bisa naik sekitar 14,2% dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sekitar 11,5%.
(dmd)
Lihat Juga :