DEN: Freeport Hanya Murnikan 30% Hasil Tambangnya
Kamis, 12 Februari 2015 - 15:13 WIB
DEN: Freeport Hanya Murnikan 30% Hasil Tambangnya
A
A
A
JAKARTA - PT Freeport Indonesia ternyata selama ini hanya memurnikan 30% hasil tambangnya di pabrik pemurnian (smelter) di Gresik, Jawa Timur. Padahal, selama ini perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) tersebut telah habis-habisan mengeruk emas di Papua.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sonny Keraf mengaku geram dengan tingkah Freeport selama ini. Bahkan menurutnya, hasil tambang yang dimurnikan tersebut tidak jelas apakah seluruhnya berasal dari hasil tambang Freeport.
"Freeport itu hanya memurnikan hasil tambangnya 30% di Gresik. Itu juga kita tidak tahu apa itu emas semua, atau ada batu juga," tegas dia di Megawati Institute Jakarta, Kamis (12/2/2015).
Karena itu, mantan anggota DPR ini juga mendesak agar perusahaan tambang asal negeri Paman Sam ini bisa membangun smelter di Papua, lantas memurnikan hasil tambangnya di Bumi Cendrawasih tersebut.
"Kalau tidak pernah kita putuskan untuk mewajibkan itu (bangun smelter di Papua), sampai kapanpun kita tidak akan berani mewajibkan itu. Saya berharap Freeport harus ditekankan betul bangun smelter, terlebih di Papua," pungkas dia.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sonny Keraf mengaku geram dengan tingkah Freeport selama ini. Bahkan menurutnya, hasil tambang yang dimurnikan tersebut tidak jelas apakah seluruhnya berasal dari hasil tambang Freeport.
"Freeport itu hanya memurnikan hasil tambangnya 30% di Gresik. Itu juga kita tidak tahu apa itu emas semua, atau ada batu juga," tegas dia di Megawati Institute Jakarta, Kamis (12/2/2015).
Karena itu, mantan anggota DPR ini juga mendesak agar perusahaan tambang asal negeri Paman Sam ini bisa membangun smelter di Papua, lantas memurnikan hasil tambangnya di Bumi Cendrawasih tersebut.
"Kalau tidak pernah kita putuskan untuk mewajibkan itu (bangun smelter di Papua), sampai kapanpun kita tidak akan berani mewajibkan itu. Saya berharap Freeport harus ditekankan betul bangun smelter, terlebih di Papua," pungkas dia.
(rna)
Lihat Juga :