Kepemilikan Asing Sektor Asuransi Dikaji

Rabu, 18 Februari 2015 - 13:21 WIB
Kepemilikan Asing Sektor...
Kepemilikan Asing Sektor Asuransi Dikaji
A A A
JAKARTA - Pemerintah masih melakukan kajian untuk perusahaan asuransi yang dimiliki asing. Hal ini terkait rencana pengaturan sebagian saham yang harus dilepaskan atau kebijakan batasan kepemilikan asing di perusahaan asuransi tidak berlaku ke belakang.

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kebijakan dan Regulasi Jasa Keuangan dan Pasar Modal Isa Rachmatarwata mengatakan saat ini pemerintah masih mengkaji mengenai porsi dan batasan kepemilikan asing pada perusahaan asuransi di Indonesia. “Yang kita kaji itu untuk yang existing. Kita lihat manfaat atau buruknya,” ujar Isa dalam jumpa pers di Jakarta kemarin.

Dia berharap, perusahaan asuransi asing saat ini dapat memberikan lapangan pekerjaan dan kemajuan terhadap ekonomi Indonesia. Ini tentu dapat menjadi pertimbangan pemerintah. Sehingga, tidak perlu dilakukan pembatasan kepemilikan asing atau bahkan mengurangi.

“Kita tidak akan batasi dankurangi. Namun, kalaubesar manfaatnya, tentu kita akan ambil sikap. Jadi, belum tahu berapa porsinya,” katanya. Sebelumnya dia mengatakan, perlu ada persyaratan yang harus dipenuhi perusahaan asuransi asing jika ingin masuk ke Indonesia. Persyaratan ini bisa dalam bentuk legitimasi keberadaan asing di dalam negeri agar melakukan bisnis di Indonesia tidak terlalu mudah.

”Itu yang saya lihat, banyak orang asing bekerja mudah di Indonesia karena tidak ada aturan secara legitimate masuknya mereka ke Indonesia,” tegasnya. Menurut dia, masuknya perusahaan asing ke Indonesia harus disikapi dengan positif lantaran dapat mengembangkan industri asuransi dalam negeri.

Dengan masuknya investasi dari luar negeri, potensi untuk menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia akan semakin terbuka. Di sisi lain Indonesia harus bisa mempersiapkan sumber daya manusia agar dapat bersaing di ASEAN. Pemerintah berharap. industri asuransi dalam negeri tak hanya fokus dalam menambah market share saja melainkan juga fokus terhadap pemanfaatan kepada masyarakat.

Atas dasar itu ketahanan industri menjadi penting sebagai bentuk perlindungan kepada masyarakat yang menggunakan asuransi. ”Tidak hanya berpikir bisnis tapi berpikir proteksi tambahan bagi masyarakat,” ujarnya. Sebelumnya OJK akan mengawasi konglomerasi keuangan pada Juni 2015.

Hal ini dilakukan demi pengawasan terintegrasi berdasarkan risiko yang menerapkan manajemen risiko dan tata kelola. Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, hal ini dapat mempermudah penilaian jasa keuangan dari kemungkinan kerugian. Pengawasan dilakukan secara individu maupun konglomerasi untuk semua yang memengaruhi permodalan.

“Tidak ada lagi risiko dalam konglomerasi keuangan yang dapat mengganggu secara keseluruhan,” ujarnya. Dia menyebutkan, dari 32 perusahaan konglomerasi keuangan yang ada, sedikitnya 16 perusahaan konglomerasi sudah teridentifikasi secara lengkap. Perusahaan yang termasuk konglomerasi keuangan akan masuk dalam pengawasan.

“Sisanya sebelum Juni 2015 diharapkan sudah teridentifikasi secara lengkap,” paparnya. Nelson menjelaskan, salah satu poin yang menjadi pengawasan OJK adalah sumber daya manusia yang bekerja di anak perusahaan bagian dari konglomerasi keuangan, yaitu harus memiliki kualitas yang sama dengan induk usahanya.

Hafid fuad
(bhr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
55 menit yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
1 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
2 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
11 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
11 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
12 jam yang lalu
Infografis
Dewan Penasihat Danantara...
Dewan Penasihat Danantara Diisi Tokoh Asing, Ada Mantan PM Thailand
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved