WEF Harus Dimanfaatkan untuk Tarik Investasi
Jum'at, 20 Februari 2015 - 10:05 WIB
WEF Harus Dimanfaatkan untuk Tarik Investasi
A
A
A
JAKARTA - Indonesia harus memanfaatkan pertemuan 24th World Economic Forum (WEF) on East Asia untuk menarik investasi dari perusahaan-perusahaan kelas dunia.
Setelah tahun 2011 Indonesia untuk kali kedua kembali menjadi tuan rumah Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur atau World Economic Forum on East Asia. Ajang yang akan digelar di Jakarta 19-21 April 2015 ini akan dihadiri 650 peserta dari 20 negara yang didominasi kalangan dunia usaha.
Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur Ke-24 ini mengambil tema “Anchoring Trust in East AsiaAnchoring Trust in East Asias New Regionalism “ dan akan fokus pada tiga pilar yaitu Konteks Regional Baru; Konteks Ekonomi Baru; dan Konteks Kewarganegaraan Baru.
Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan, dipilihnya Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur Ke-24 itu merupakan poin positif yang harus dimanfaatkan.
“Bahwa Indonesia ini negara yang pertumbuhannya baik, stabil, dan diharapkan bisa menarik investasi dan usaha dagang ke Indonesia,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, baru-baru ini. Bachrul mengungkapkan, pada pertemuan tersebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyampaikan secara langsung kebijakan-kebijakan dan target yang ingin dicapai Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Termasuk, ruang lingkup sektor dan potensi yang bisa diisi oleh para investor asing. Menurut Bachrul, biasanya pengusaha yang hadir di ajang WEF merupakan pemilik langsung dari perusahaan-perusahaan besar dan berpengaruh di dunia. “Dengan (presiden) menyampaikan langsung, para CEO bisa menaruh investasinya di Indonesia untuk membantu pencapaian target pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Bachrul menegaskan, Indonesia sangat terbuka bagi dunia usaha. Sektornya pun luas, mulai investasi untuk pembangunan sumber daya manusia hingga infrastruktur. Maka, Indonesia perlu melakukan penjajakan dan promosi guna menarik investasi. “Ini kesempatan baik untuk menunjukkan (potensi Indonesia), dan nantinya Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) diharapkan menindaklanjuti,” tuturnya.
Tahun ini BKPM menargetkan investasi yang masuk mencapai Rp519,5 triliun. Target investasi tersebut terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp175,8 triliun dan penanaman modal asing (PMA) Rp343,7 triliun.
Direktur Senior dan Kepala Asia Pasifik WEF Sushant Palakurthi Rao mengatakan, ajang pertemuanituakanmemperkaya dialog untuk meningkatkan kerja sama regional dan keputusan penting dalam mempercepat pembangunan sosial ekonomi.
Untuk itu, pertemuan akan menghadirkan para pemimpin senior dari bisnis, politik, masyarakat sipil, dan akademisi. Sushant pun mengakui besarnya sumber daya alam Indonesia. Namun ia mengingatkan, percepatan pembangunan infrastruktur dan kondisi perpolitikan yang kondusif juga akan menunjang iklim usaha yang baik bagi investor.
Optimisme akan potensi investasi sebelumnya juga diutarakan Kepala BKPM Franky Sibarani. Menurut dia, kendati pertumbuhan ekonomi pada 2014 hanya mencapai angka 5,02%, potensi investasi di tahun ini tetap besar. Franky mengungkapkan, pada 2014 investasi tumbuh 16%.
Sementara, tahun ini terdapat beberapa investasi yang masih terhambat atau bermasalah konstruksinya dan nilainya mencapai Rp400 triliun lebih. Selain itu, minat investasi juga cukup tinggi yaitu mencapai USD74 miliar.
“Sektornya beragam, mulai industri padat karya, industri bernilai tambah, listrik, maritim dan lainnya. Saya kira kita masih optimistis untuk 2015,” tandasnya beberapa waktu lalu. Franky menambahkan, keberadaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) akan mempermudah dan mempercepat proses perizinan usaha.
Menurutnya, sejak diluncurkan pada 26 Januari lalu, terjadi lonjakan kunjungan ke BKPM/PTSP Pusat yang signifikan dari para pengusaha atau calon investor yang sebelumnya 200 kunjungan menjadi lebih dari 300 kunjungan.
Inda susanti
Setelah tahun 2011 Indonesia untuk kali kedua kembali menjadi tuan rumah Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur atau World Economic Forum on East Asia. Ajang yang akan digelar di Jakarta 19-21 April 2015 ini akan dihadiri 650 peserta dari 20 negara yang didominasi kalangan dunia usaha.
Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur Ke-24 ini mengambil tema “Anchoring Trust in East AsiaAnchoring Trust in East Asias New Regionalism “ dan akan fokus pada tiga pilar yaitu Konteks Regional Baru; Konteks Ekonomi Baru; dan Konteks Kewarganegaraan Baru.
Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan, dipilihnya Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur Ke-24 itu merupakan poin positif yang harus dimanfaatkan.
“Bahwa Indonesia ini negara yang pertumbuhannya baik, stabil, dan diharapkan bisa menarik investasi dan usaha dagang ke Indonesia,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, baru-baru ini. Bachrul mengungkapkan, pada pertemuan tersebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyampaikan secara langsung kebijakan-kebijakan dan target yang ingin dicapai Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Termasuk, ruang lingkup sektor dan potensi yang bisa diisi oleh para investor asing. Menurut Bachrul, biasanya pengusaha yang hadir di ajang WEF merupakan pemilik langsung dari perusahaan-perusahaan besar dan berpengaruh di dunia. “Dengan (presiden) menyampaikan langsung, para CEO bisa menaruh investasinya di Indonesia untuk membantu pencapaian target pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Bachrul menegaskan, Indonesia sangat terbuka bagi dunia usaha. Sektornya pun luas, mulai investasi untuk pembangunan sumber daya manusia hingga infrastruktur. Maka, Indonesia perlu melakukan penjajakan dan promosi guna menarik investasi. “Ini kesempatan baik untuk menunjukkan (potensi Indonesia), dan nantinya Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) diharapkan menindaklanjuti,” tuturnya.
Tahun ini BKPM menargetkan investasi yang masuk mencapai Rp519,5 triliun. Target investasi tersebut terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp175,8 triliun dan penanaman modal asing (PMA) Rp343,7 triliun.
Direktur Senior dan Kepala Asia Pasifik WEF Sushant Palakurthi Rao mengatakan, ajang pertemuanituakanmemperkaya dialog untuk meningkatkan kerja sama regional dan keputusan penting dalam mempercepat pembangunan sosial ekonomi.
Untuk itu, pertemuan akan menghadirkan para pemimpin senior dari bisnis, politik, masyarakat sipil, dan akademisi. Sushant pun mengakui besarnya sumber daya alam Indonesia. Namun ia mengingatkan, percepatan pembangunan infrastruktur dan kondisi perpolitikan yang kondusif juga akan menunjang iklim usaha yang baik bagi investor.
Optimisme akan potensi investasi sebelumnya juga diutarakan Kepala BKPM Franky Sibarani. Menurut dia, kendati pertumbuhan ekonomi pada 2014 hanya mencapai angka 5,02%, potensi investasi di tahun ini tetap besar. Franky mengungkapkan, pada 2014 investasi tumbuh 16%.
Sementara, tahun ini terdapat beberapa investasi yang masih terhambat atau bermasalah konstruksinya dan nilainya mencapai Rp400 triliun lebih. Selain itu, minat investasi juga cukup tinggi yaitu mencapai USD74 miliar.
“Sektornya beragam, mulai industri padat karya, industri bernilai tambah, listrik, maritim dan lainnya. Saya kira kita masih optimistis untuk 2015,” tandasnya beberapa waktu lalu. Franky menambahkan, keberadaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) akan mempermudah dan mempercepat proses perizinan usaha.
Menurutnya, sejak diluncurkan pada 26 Januari lalu, terjadi lonjakan kunjungan ke BKPM/PTSP Pusat yang signifikan dari para pengusaha atau calon investor yang sebelumnya 200 kunjungan menjadi lebih dari 300 kunjungan.
Inda susanti
(ftr)