Industri Siap Serap Garam Lokal

Rabu, 04 Maret 2015 - 10:55 WIB
Industri Siap Serap...
Industri Siap Serap Garam Lokal
A A A
JAKARTA - Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) berkomitmen membeli garam rakyat. Pada tahap awal akan dilakukan pembelian sebanyak 280.000 ton. Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan, kebutuhan garam industri cukup besar.

Sementara, sebagian masyarakat Indonesia telah memproduksi garam. Oleh karena itu, Menperin meminta AIPGI tidak mengimpor garam selama produksi garam dalam negeri masih ada. “Selama ini yang diributkan adalah garam petani tidak terjual. Untuk itu, teman-teman dari asosiasi ini punya satu niat baik untuk membeli atau menyerap seluruh garam hasil petani yang dalam dua bulan ke depan mereka mau menampung sekitar 280.000 ton dan nanti sampai dengan Juli itu bisa sampai 600.000 ton,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, pasokan garam lokal belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Adapun, industri aneka pangan membutuhkan garam dengan kadar NaCl minimal 97%. Di Indonesia, kadar NaCl pada garam hanya 94%. “Salah satu wilayah yang ideal untuk memproduksi garam dengan kadar NaCl 97% adalah NTT.

Terkait pengembangan garam industri, akan diusulkan pemberian tax allowance yang merupakan revisidari PP52Tahun2011untuk wilayah NTT,” ungkapnya. Dia melanjutkan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mengoordinasi penyusunan roadmap pengembangan industri garam nasional dengan seluruh stakeholder sebagai acuan di dalam mengurangi importasi garam keperluan industri.

“Terkait dengan ketersediaan lahan untuk garam industri, kita akan koordinasi dengan Kementerian Agraria dan pemerintah daerah agar potensi pengembangan garam industri di NTT yang sekitar 13.000 hektare (ha) dapat dicapai,” tegasnya. Sekretaris Umum BPP AIPGI Cucu Sutara mengatakan, yang menjadi persoalan mendasar garam yang diproduksi petani adalah kualitas.

“Selama ini kami membeli sesuai dengan ketentuan yang ada. Untuk harga garam kelas satu sebesar Rp750 per kilogram dan kelas dua Rp550,” ujarnya. Dia menambahkan, asosiasi dapat berperan untuk mengurangi impor garam apabila garam nasional dapat digunakan sebagai bahan baku industri sesuai dengan standar industri. “Seluruh garam petani yang akan dibeli AIPGI akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi,” jelasnya. Menurutnya, demi mencukupi kebutuhan garam, industri masih mengimpor dari Australia (90%) dan sisanya dari India dengan harga USD50 per ton.

Oktiani endarwati
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
5 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
5 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
7 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Pria...
10 Negara dengan Pria Tertampan di Dunia, Siap Bikin Jatuh Hati!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved