Pertamina: Jakarta Padam jika Pelabuhan Cilamaya Dibangun
Selasa, 10 Maret 2015 - 17:47 WIB
Pertamina: Jakarta Padam jika Pelabuhan Cilamaya Dibangun
A
A
A
JAKARTA - Media Manager PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito mengungkapkan, pembangunan Pelabuhan Cilamaya akan membuat DKI Jakarta padam.
Dia mengatakan, hal ini lantaran pasokan gas ke PLTG Muara Karang dan PLTG Tanjung Priok dialirkan dari gas di blok tersebut. Sekitar 60% produksi gas dari blok tersebut dialirkan ke PLTG di Jakarta dan 40% nya dialirkan ke industri, salah satunya industri pupuk.
"Jakarta akan terdampak langsung karena sumber gas ini untuk menjalankan pembangkit PLN. Jakarta bisa gelap," ujarnya di Jakarta, Selasa (10/3/2015).
Selain itu, sambung Adiatma, blok migas yang dioperasikan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), tersebut juga memproduksi minyak sebesar 40 ribu bph dan gas 200 mmscfd.
"Berkurangnya pendapatan APBN karena kehilangan produksi PHE ONWJ sebesar 40 ribu bph minyak dan 200 mmscfd gas, setara dengan Rp60 miliar per hari atau Rp21 triliun per tahun," tambahnya.
Menurutnya, di lokasi tersebut juga terdapat pipa yang mengalirkan BBM dan gas ke kilang Balongan. Dengan demikian, jika operasional pipa migas tersebut terhenti, maka pasokan migas ke kilang Balongan pun akan terganggu.
Ketersediaan BBM untuk wilayah Jakarta, hingga pasokan BBG untuk bus Trans Jakarta dipastikan akan terganggu. "Pasokan gas untuk industri seperti Pupuk Kujang dan Krakatau Steel dan 27 industri lokal akan terhenti," tandas Adiatma.
Dia mengatakan, hal ini lantaran pasokan gas ke PLTG Muara Karang dan PLTG Tanjung Priok dialirkan dari gas di blok tersebut. Sekitar 60% produksi gas dari blok tersebut dialirkan ke PLTG di Jakarta dan 40% nya dialirkan ke industri, salah satunya industri pupuk.
"Jakarta akan terdampak langsung karena sumber gas ini untuk menjalankan pembangkit PLN. Jakarta bisa gelap," ujarnya di Jakarta, Selasa (10/3/2015).
Selain itu, sambung Adiatma, blok migas yang dioperasikan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), tersebut juga memproduksi minyak sebesar 40 ribu bph dan gas 200 mmscfd.
"Berkurangnya pendapatan APBN karena kehilangan produksi PHE ONWJ sebesar 40 ribu bph minyak dan 200 mmscfd gas, setara dengan Rp60 miliar per hari atau Rp21 triliun per tahun," tambahnya.
Menurutnya, di lokasi tersebut juga terdapat pipa yang mengalirkan BBM dan gas ke kilang Balongan. Dengan demikian, jika operasional pipa migas tersebut terhenti, maka pasokan migas ke kilang Balongan pun akan terganggu.
Ketersediaan BBM untuk wilayah Jakarta, hingga pasokan BBG untuk bus Trans Jakarta dipastikan akan terganggu. "Pasokan gas untuk industri seperti Pupuk Kujang dan Krakatau Steel dan 27 industri lokal akan terhenti," tandas Adiatma.
(izz)
Lihat Juga :