OJK: Rupiah Tembus Rp15.000/USD Lima Bank Bisa Goyang
Sabtu, 14 Maret 2015 - 07:32 WIB
OJK: Rupiah Tembus Rp15.000/USD Lima Bank Bisa Goyang
A
A
A
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengemukakan, perbankan saat ini masih kuat menghadapi depresiasi rupiah yang berada di atas level Rp13.000 per dolar Amerika Serikat (USD). Namun, bila rupiah menembus Rp15.000/USD, akan ada satu hingga lima bank yang goyang terkena dampak besar.
Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan OJK, Irwan Lubis mengatakan, pihaknya telah melakukan stress test mengenai ketahanan perbankan akibat tekanan nilai tukar rupiah. Dari hasil stress test, industri perbankan memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi tekanan hingga mencapai Rp14.000 per USD. (Baca: Kumpulan Berita tentang Rupiah)
"Industri bank saat ini baik bisa menghadapi tekanan rupiah hingga Rp14.000 per USD. Masih oke sampai Rp14.000, tidak ada satu bank pun kena dampak. Modal dari profil risiko masih mengikuti ketentuan," ujar Irwan, belum lama ini.
Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan hingga akhir Januari 2015 tercatat sebesar 21,01%, naik dibandingkan Desember 2014 yang mencapai 19,57%.
Menurut Irwan, peningkatan tersebut disebabkan membesarnya jumlah laba yang ditahan bank. Rasio tersebut juga dinilai masih jauh lebih tinggi dari batas normal sebesar 14%.
Irwan menyebutkan, jika depresiasi rupiah menembus Rp15.000 per USD, maka kondisi tersebut akan mengganggu stabilitas makro ekonomi. Variabel pertumbuhan ekonomi akan mengalami penurunan, mengikuti pelemahan rupiah.
"Pelemahan rupiah juga akan mendorong peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) dan sebagian besar indikator ekonomi makro," tandasnya.
Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan OJK, Irwan Lubis mengatakan, pihaknya telah melakukan stress test mengenai ketahanan perbankan akibat tekanan nilai tukar rupiah. Dari hasil stress test, industri perbankan memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi tekanan hingga mencapai Rp14.000 per USD. (Baca: Kumpulan Berita tentang Rupiah)
"Industri bank saat ini baik bisa menghadapi tekanan rupiah hingga Rp14.000 per USD. Masih oke sampai Rp14.000, tidak ada satu bank pun kena dampak. Modal dari profil risiko masih mengikuti ketentuan," ujar Irwan, belum lama ini.
Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan hingga akhir Januari 2015 tercatat sebesar 21,01%, naik dibandingkan Desember 2014 yang mencapai 19,57%.
Menurut Irwan, peningkatan tersebut disebabkan membesarnya jumlah laba yang ditahan bank. Rasio tersebut juga dinilai masih jauh lebih tinggi dari batas normal sebesar 14%.
Irwan menyebutkan, jika depresiasi rupiah menembus Rp15.000 per USD, maka kondisi tersebut akan mengganggu stabilitas makro ekonomi. Variabel pertumbuhan ekonomi akan mengalami penurunan, mengikuti pelemahan rupiah.
"Pelemahan rupiah juga akan mendorong peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) dan sebagian besar indikator ekonomi makro," tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :