Investasi China ke Luar Negeri Meningkat

Rabu, 18 Maret 2015 - 08:45 WIB
Investasi China ke Luar...
Investasi China ke Luar Negeri Meningkat
A A A
BEIJING - Investasi langsung China ke luar negeri (overseas direct investment /ODI) meningkat pada Februari saat perusahaan minyak pemerintah mengucurkan USD3 miliar dalam transaksi di Belanda.

“ODI naik 68,2% year on year (yoy) menjadi USD7,25 miliar. Itu artinya dalam dua bulan pertama tahun ini ODI naik 51% menjadi USD17,4 miliar,” ungkap data resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag) China, dikutip kantor berita AFP . Adapun investasi langsung asing ke China (foreign direct investment /FDI) naik 0,9% yoy menjadi USD8,56 miliar pada Februari. Itu menandai penurunan tajam dari Januari yang tumbuh 29,4%.

ODI dan FDI tidak termasuk sektor keuang-an. China membukukan total FDI USD119,6 miliar pada 2014. Adapun ODI naik menjadi USD102,9 miliar, melampaui USD100 miliar untuk pertama kali saat banyak perusahaan China mencari peluang ke luar negeri saat pertumbuhan ekonomi domestik melemah. “Peningkatan ODI pada Februari didorong oleh peningkatan sepuluh kali lipat dalam investasi di Uni Eropa menjadi USD3,36 miliar, sebagian besar karena perusahaan minyak PetroChina mengucurkan USD2,89 miliar ke Belanda,” kata Juru Bicara Kemendag China Shen Danyang.

Dia tidak memberi rincian transaksi yang tidak disoroti di situs internet China National Petroleum Corporation atau dalam dokumen di Bursa Saham Hong Kong tempat anak perusahaan PetroChina terdaftar. Investasi di Amerika Serikat (AS) naik 64,8% pada dua bulan pertama tahun ini dari periode yang sama pada 2014. China secara aktif mengakuisisi aset-aset asing, khususnya energi dan sumber daya alam, untuk menggerakkan perekonomian Negeri Panda.

Pemerintah juga mendorong perusahaan-perusahaan China melakukan akuisisi di luar negeri untuk memperkuat akses pasar dan pengalaman internasional. Shen menjelaskan, depresiasi euro terhadap dolar dan yuan China mungkin mendorong lebih banyak perusahaan asal China yang membeli aset-aset di Eropa.

“Terus melemahnya nilai euro terhadap dolar membuat harga aset di zona euro turun, menciptakna peluang bagi perusahaan-perusahaan China berinvestasi dan melakukan merger serta akuisisi di sana,” ungkapnya. Meski demikian, Pemerintah China akan tetap mencermati tren saat harga menjadi salah satu pertimbangan saat berinvestasi.

Negara ekonomi terbesar kedua dunia itu tumbuh 7,4% pada tahun lalu, paling lemah sejak 1990, saat pemerintah berupaya mengubah model pertumbuhan menjadi lebih mengandalkan belanja konsumen sebagai penggerak utama ekonomi. Daya tarik China sebagai tujuan investasi juga turun dalam beberapa tahun ini karena naiknya gaji pegawai dan sewa lahan, serta kompetisi dari negara- negara Asia Tenggara seperti Vietnam.

Pemerintah China juga menganggap faktor negara seperti upaya AS memindahkan produksi industri kembali ke negeri mereka. Otoritas China telah meningkatkan penyelidikan atas sejumlah tuduhan praktik monopoli, permainan harga, dan aktivitas lain oleh perusahaan- perusahaan asing di berbagai sektor, dari manufaktur, automotif, farmasi, hingga susu bayi.

Meski demikian, Kemendag China berulang kali menyangkal bahwa Beijing menargetkan perusahaan-perusahaan asing dalam penyelidikan tersebut. Pada periode Januari dan Februari, FDI turun 15,9% dari Jepang, seiring konflik wilayah dan sejarah perang kedua negara. Investasi asing dari AS turun 31,8% yoy karena membaiknya kondisi perekonomian terbesar dunia tersebut.

Investasi dari Arab Saudi meningkat hampir sepuluh kali lipat dan investasi dari Prancis dan Jerman meningkat 366,7% dan 59%. Shen menjelaskan, peningkatan itu didorong oleh suntikan dana tunai oleh perusahaan- perusahaan dalam berbagai proyek baru atau yang ada di China, termasuk raksasa automotif Jerman Daimler, perusahaan kimia Prancis Arkema dan Saudi Basic Industries Corporation. China juga kembali menunjukkan tanda pertumbuhan yang lemah pada dua bulan pertama tahun ini.

Data industri dan ritel menunjukkan penurunan sehingga muncul perkiraan pemerintah akan mengucurkan stimulus baru untuk mendorong perekonomian. “Output industri yang mengukur produksi di pabrik, workshop, dan pertambangan China naik 6,8% yoy pada Januari dan Februari,” ungkap data Biro Statistik Nasional (NBS) China, dikutip kantor berita AFP . Data itu merupakan yang terendah dalam enam tahun, sejak pertumbuhan 5,7% pada Desember 2008 dan lebih sedikit dibandingkan proyeksi rata-rata pertumbuhan 7,7% dalam survei ekonom oleh Bloomberg News .

“Penjualan ritel yang menjadi indikator kunci belanja konsumen, naik 10,7% selama dua bulan pertama 2015, dibandingkan tahun lalu,” ungkap NBS . Ini merupakan yang terburuk sejak pertumbuhan 9,4% pada Februari 2006.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Konsumsi Pertalite Meledak...
Konsumsi Pertalite Meledak Imbas Kenaikan Harga BBM Pertamax, Pasokan Aman?
7 menit yang lalu
Kenaikan Harga Gas Industri...
Kenaikan Harga Gas Industri Picu Gelombang PHK, Mensesneg: Satu-Dua Hari Akan Ambil Keputusan
42 menit yang lalu
Keluarga Pejabat di...
Keluarga Pejabat di China Dilarang Total Berbisnis, Mundur atau Tutup Usaha! Berani Tiru?
59 menit yang lalu
B50 Mulai Berjalan 1...
B50 Mulai Berjalan 1 Juli 2026, Harga Solar Dipastikan Tidak Berubah
1 jam yang lalu
IHSG Babak Belur Jelang...
IHSG Babak Belur Jelang Akhir Pekan, Sesi Siang Ditutup Ambruk 2,73% ke 5.835
2 jam yang lalu
Kepuasan Peserta TASPEN...
Kepuasan Peserta TASPEN Terus Membaik, Catat Rekor Positif Sejak Empat Tahun Lalu
3 jam yang lalu
Infografis
7 Universitas Islam...
7 Universitas Islam Negeri Terbaik Masuk Top 100 Nasional Webometrics 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved