Wall Street Berakhir Menguat karena Minyak Rebound
Jum'at, 10 April 2015 - 08:55 WIB
Wall Street Berakhir Menguat karena Minyak Rebound
A
A
A
JAKARTA - Indeks saham di Wall Street pada perdagangan Kamis waktu setempat berakhir menguat didukung saham energi akibat rebound-nya harga minyak mentah.
Delapan dari 10 sektor di indeks S&P 500 berakhir menguat. Pasar memperpanjang kenaikan pada perdagangan sore dan menempatkan indeks S&P 500 sekitar 1,3% dari rekor penutupan.
Sementara itu, banyak investor mulai fokus pada musim laba perusahaan kuartal I tahun ini. Penurunan laba, terutama perusahaan dengan eksposur multinasional, sebagian disebabkan menguatnya dolar AS (USD). Namun, analis mengatakan dampak naiknya USD belum tentu menyebabkan koreksi bursa dalam jangka panjang.
"Selama USD menguat akan memengaruhi bisnis perusahaan dan itu adalah sebuah masalah, tetapi jika penguatan USD dinilai sebagai penyebab utamanya, itu mengurangi masalah," kata Kepala Strategi Investasi Northern Trust Asset Management Jim McDonald seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (10/4/2015).
Menurut dia, laba perusahaan menjadi masalah nyata bagi bursa saham jika disertai dengan resesi ekonomi, namun tidak terjadi saat ini. Pasalnya, IHSG saat ini berada pada posisi untuk bergerak naik.
Sektor energi di indeks S&P 500 (SPNY) naik 1,5% setelah harga minyak mentah Brent melonjak 1,8%. Sementara ketidakpastian tentang kesepakatan program nuklir Iran memberi imbas pada bursa. Saham ConocoPhillips (COP.N) naik 3,4% menjadi USD67.
Dalam data ekonomi terbaru, klaim pengangguran naik pada pekan terakhir, meski kenaikannya lebih kecil daripada yang diantisipasi.
Dow Jones Industrial Average ditutup naik 56,22 poin atau 0,31% ke 17.958,73; indeks S&P 500 naik 9,29 poin atau 0,45% ke 2.091,19; dan Nasdaq Composite bertambah 23,74 poin atau 0,48% ke 4.974,57.
Sekitar 6,07 miliar lembar saham yang diperdagangkan di semua platform AS, di bawah rata-rata bulanan sebanyak 6,25 miliar lembar saham.
Delapan dari 10 sektor di indeks S&P 500 berakhir menguat. Pasar memperpanjang kenaikan pada perdagangan sore dan menempatkan indeks S&P 500 sekitar 1,3% dari rekor penutupan.
Sementara itu, banyak investor mulai fokus pada musim laba perusahaan kuartal I tahun ini. Penurunan laba, terutama perusahaan dengan eksposur multinasional, sebagian disebabkan menguatnya dolar AS (USD). Namun, analis mengatakan dampak naiknya USD belum tentu menyebabkan koreksi bursa dalam jangka panjang.
"Selama USD menguat akan memengaruhi bisnis perusahaan dan itu adalah sebuah masalah, tetapi jika penguatan USD dinilai sebagai penyebab utamanya, itu mengurangi masalah," kata Kepala Strategi Investasi Northern Trust Asset Management Jim McDonald seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (10/4/2015).
Menurut dia, laba perusahaan menjadi masalah nyata bagi bursa saham jika disertai dengan resesi ekonomi, namun tidak terjadi saat ini. Pasalnya, IHSG saat ini berada pada posisi untuk bergerak naik.
Sektor energi di indeks S&P 500 (SPNY) naik 1,5% setelah harga minyak mentah Brent melonjak 1,8%. Sementara ketidakpastian tentang kesepakatan program nuklir Iran memberi imbas pada bursa. Saham ConocoPhillips (COP.N) naik 3,4% menjadi USD67.
Dalam data ekonomi terbaru, klaim pengangguran naik pada pekan terakhir, meski kenaikannya lebih kecil daripada yang diantisipasi.
Dow Jones Industrial Average ditutup naik 56,22 poin atau 0,31% ke 17.958,73; indeks S&P 500 naik 9,29 poin atau 0,45% ke 2.091,19; dan Nasdaq Composite bertambah 23,74 poin atau 0,48% ke 4.974,57.
Sekitar 6,07 miliar lembar saham yang diperdagangkan di semua platform AS, di bawah rata-rata bulanan sebanyak 6,25 miliar lembar saham.
(rna)
Lihat Juga :