Ekonomi‎ Melempem akibat Jokowi Leburkan Kementerian

Minggu, 10 Mei 2015 - 12:01 WIB
Ekonomi‎ Melempem...
Ekonomi‎ Melempem akibat Jokowi Leburkan Kementerian
A A A
JAKARTA - Centre for Budget Analysis (CBA) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2015 yang hanya mampu bertengger di angka 4,7%, sebagai buntut dari kebijakan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang meleburkan beberapa kementerian.

Seperti diketahui, dalam periode pemerintahan Jokowi terdapat beberapa kementerian yang dilebur dan ada pula yang dipisah dan dibuat kementerian baru. Misal, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) yang merupakan hasil peleburan Kemenpu dan Kemenpera.
Selain melebur Kemenpupera, Jokowi juga mengalihkan fungsi Tata Ruang yang biasa ada di Kementerian PU, ke Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Ada pula Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Kemaritiman yang menjadi kementerian baru pada masa pemerintahan Jokowi.

Direktur CBA Uchok Sky Khadafi menilai, peleburan beberapa kementerian pada rezim Jokowi ini menyebabkan minimnya pencairan dana dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan belanja pemerintah dalam APBNP 2015 belum maksimal.

"Ada kementerian yang baru, dan ada beberapa kementerian yang dilebur ke dalam satu kementerian ini yang menganggu proses perencanaan, dan pencairan anggaran pada level kementerian," ucapnya seperti dalam rilis, di Jakarta, Minggu (10/5/2015).

Menurutnya, terganggunya belanja pemerintah atau proses pencairan anggaran kementerian disebabkan perombakan dalam struktur kementerian belum selesai. Jabatan pada level eselon satu atau dirjen masih banyak yang kosong dan belum terisi.

"Pentingnya jabatan eselon satu untuk memberikan tanda tangan atau paraf pada dokumen anggaran agar bisa secepatnya duit bisa cair dari Kementerian Keuangan," imbuh Uchok.‎

Selain itu, belum terisinya level eselon tiga juga mengakibatkan dokumen anggaran yang berisi uraian kegiatan dan anggaran belum rampung dibuat. Bahkan, Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2015 tentang Rincian APBN tahun 2015 hanya berisi anggaran dan kegiatan yang global.

"Itu (Rincian APBN tahun 2015) tidak berisi kegiatan dan anggaran yang terperinci dan jelas, seperti dijelaskan dan dipublikasi peraturan presiden zaman SBY," ungkapnya.

Belum maksimalnya belanja pemerintah ini, berakibat pada penarikan pajak yang hanya sebesar Rp198,2 triliun untuk kuartal I. Padahal, setiap kuartal pemerintah Jokowi harus menarik pajak sekitar Rp372.3 triliun.

"Walaupun motto presiden Jokowi adalah kerja, kerja, kerja, tapi yang dikerjakan belum maksimal. Selama ini hanya makan gaji buta minim prestasi kerja. Paling yang dikerjakan Presiden Jokowi adalah acara seremonial seperti peresmian, blusukan yang tidak bermanfaat buat rakyat," tandas Uchok.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Berita Terkini
Membuka Pintu Investasi...
Membuka Pintu Investasi dan Kerja Sama Selangor-Jawa Barat lewat SIBS 2026
36 menit yang lalu
Eksodus Miliarder: Mengapa...
Eksodus Miliarder: Mengapa Mark Zuckerberg hingga Orang Kaya Inggris Kompak Kabur?
1 jam yang lalu
Keamanan Jadi Faktor...
Keamanan Jadi Faktor Utama Nasabah Memilih Bank Digital
2 jam yang lalu
Ada Nilai Ekonomi Ratusan...
Ada Nilai Ekonomi Ratusan Triliun, Industri Tembakau Dipandang Diperlakukan Paling Tidak Adil
2 jam yang lalu
Kepala BPS Ungkap Progres...
Kepala BPS Ungkap Progres Sensus Ekonomi 2026 DKI Jakarta: Capai 45,17%
2 jam yang lalu
IHSG Cetak Rebound,...
IHSG Cetak Rebound, Kembali Lagi ke Level 6.000 usai Pengumuman S&P Global Ratings
3 jam yang lalu
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved