Peta Jalan Jadi Entrepreneur Masa Depan, Harus Punya 3 Kompetensi
Selasa, 21 Maret 2023 - 06:31 WIB
Lebih lanjut Evi memberikan, sebuah Roadmap (peta jalan untuk menjadi Entrepreneur masa depan (Future Entrepreneur). Ada lima anak tangga yang harus dilalui agar mampu bersaing dan memenangkan persaingan.
Anak tangga pertama: yakni belajar di bangku kuliah untuk memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya. Laksanakan sungguh-sungguh, karena akan butuhkan pengetahuan itu. Persoalan di era sekarang dan di masa mendatang semakin kompleks. Persoalan yang kompleks tidak dapat dipecahkan dengan cara-cara biasa, tetapi membutuhkan pengetahuan.
Selanjutnya dengan pengetahuan yang dimiliki, perlu ditambah dengan skill. Manfaatkan waktu untuk sungguh-sungguh berlatih supaya memiliki skill, baik hard skill maupun soft skill.
Belajar untuk menjadi wirausahawan, belajar untuk mengelola usaha saudara sendiri, belajar kepemimpinan, belajar manajemen, belajar problem solving, mengambil keputusan, mengatasi kesulitan, belajar berkomunikasi.
Di tangga ketiga, mengeksekusi apa yang sudah dirancang. Di sinilah mulai menjalankan bisnis Anda sendiri. Mulailah dengan yang mampu dikerjakan, jangan mulai dengan yang tidak mampu dikelola.
“Di tangga keempat dan seterusnya, dituntut untuk konsisten, kelola risiko dan hadapi masalah. Saudara sudah berada di jalan menuju sukses. Jangan pernah menyerah, karena di saat menyerah, sesungguhnya saudara sudah sangat dekat dengan kesuksesan saudara,” papar Evi.
Kolaborasi Simbiotik-Mutualistik
Menyinggung Program Kemendikbudristekdikti, Evi Lusviana mengatakan, Kampus Merdeka – Merdeka Belajar. Yang oleh Evi dari swasta menyebutnya Kampus Mandiri. Kata Mandiri lebih mengikat, ketimbang kata “merdeka” yang sering diplesetkan ke dalam konotasi negatif: merdeka diartikan bebas atau semaunya.
Pihaknya dari dunia usaha menyambut baik program kampus mandiri, karena dengan demikian antara Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dapat membangun kolaborasi simbiotik-mutualistik dalam mempersiapkan generasi milenial dan generasi Z menjadi generasi yang siap untuk memasuki dunia kerja di era industry 4.0 dan Community 5.0.
Kolaborasi antara Perguruan Tinggi melalui Kampus Mandiri dapat mewujudkan bonus demografi, sekaligus menjadi jembatan emas untuk mencapai Indonesia Maju 2045. Terkait dengan hal ini, Evi menjelaskan bagaimana kesiapan Teknolife dalam bekerjasama dengan Perguruan Tinggi menyelenggarakan Kampus Mandiri atau MBKM.
Anak tangga pertama: yakni belajar di bangku kuliah untuk memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya. Laksanakan sungguh-sungguh, karena akan butuhkan pengetahuan itu. Persoalan di era sekarang dan di masa mendatang semakin kompleks. Persoalan yang kompleks tidak dapat dipecahkan dengan cara-cara biasa, tetapi membutuhkan pengetahuan.
Selanjutnya dengan pengetahuan yang dimiliki, perlu ditambah dengan skill. Manfaatkan waktu untuk sungguh-sungguh berlatih supaya memiliki skill, baik hard skill maupun soft skill.
Belajar untuk menjadi wirausahawan, belajar untuk mengelola usaha saudara sendiri, belajar kepemimpinan, belajar manajemen, belajar problem solving, mengambil keputusan, mengatasi kesulitan, belajar berkomunikasi.
Di tangga ketiga, mengeksekusi apa yang sudah dirancang. Di sinilah mulai menjalankan bisnis Anda sendiri. Mulailah dengan yang mampu dikerjakan, jangan mulai dengan yang tidak mampu dikelola.
“Di tangga keempat dan seterusnya, dituntut untuk konsisten, kelola risiko dan hadapi masalah. Saudara sudah berada di jalan menuju sukses. Jangan pernah menyerah, karena di saat menyerah, sesungguhnya saudara sudah sangat dekat dengan kesuksesan saudara,” papar Evi.
Kolaborasi Simbiotik-Mutualistik
Menyinggung Program Kemendikbudristekdikti, Evi Lusviana mengatakan, Kampus Merdeka – Merdeka Belajar. Yang oleh Evi dari swasta menyebutnya Kampus Mandiri. Kata Mandiri lebih mengikat, ketimbang kata “merdeka” yang sering diplesetkan ke dalam konotasi negatif: merdeka diartikan bebas atau semaunya.
Pihaknya dari dunia usaha menyambut baik program kampus mandiri, karena dengan demikian antara Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dapat membangun kolaborasi simbiotik-mutualistik dalam mempersiapkan generasi milenial dan generasi Z menjadi generasi yang siap untuk memasuki dunia kerja di era industry 4.0 dan Community 5.0.
Kolaborasi antara Perguruan Tinggi melalui Kampus Mandiri dapat mewujudkan bonus demografi, sekaligus menjadi jembatan emas untuk mencapai Indonesia Maju 2045. Terkait dengan hal ini, Evi menjelaskan bagaimana kesiapan Teknolife dalam bekerjasama dengan Perguruan Tinggi menyelenggarakan Kampus Mandiri atau MBKM.
Lihat Juga :