5 Negara Maju yang Pernah Mengalami Krisis Moneter Terburuk, Nomor 2 Dinyatakan Bangkrut
Minggu, 25 Juni 2023 - 11:00 WIB
Pasar finansial dunia juga dilanda kepanikan dan indeks Dow Jones ditutup merosot hingga 504,48 poin. Pasar saham Amerika Serikat menurun drastis dengan nilai yang tersapu akibat krisis mencapai USD8 triliun selama periode 2007-2009. Krisis moneter ini juga menyebabkan pengangguran terus meningkat hingga mencapai 10% pada Oktober 2009.
2. Yunani
Krisis keuangan yang terjadi di Yunani pada 2010 merupakan imbas krisis yang di Amerika yang disambut dengan kondisi keuangan negara itu. Salah satunya akumulasi defisit anggaran sebesar 6% selama 30 tahun. Ditambah lagi negara itu mengadopsi kebijakan moneter dengan seluruh Eropa. Gara-gara krisis ini Yunani mengalami gagal bayar atas utang yang jatuh tempo. Pada 2012 Yunani dinyatakan bangkrut setelah gagal membayar utang sebesar USD138 miliar. Beruntung Yunani kemudian mendapatkan bantuan dari IMF dan Eropa sebanyak USD160 miliar.
3. Rusia
Krisis keuangan Rusia yang juga disebut krisis rubel dimulai pada pertengahan Agustus 1998. Krisis ini mengakibatkan pemerintah Rusia dan Bank Sentral Rusia mendevaluasi rubel dan gagal membayar utangnya. Krisis tersebut berdampak parah pada ekonomi banyak negara tetangga mereka, seperti Lituania, Latvia, Estonia, Belarus, Kazakhstan, Moldova, Ukraina dan Uzbekistan. Salah satu penyebabnya adalah pinjaman luar negeri digunakan untuk membiayai investasi dalam negeri. Ketika tidak mampu membayar kembali pinjaman itu, rubel terpaksa terdevaluasi.
4. Spanyol
Krisis keuangan Spanyol terjadi pada rentang 2008–2014. Krisis di Negeri Matador ini juga dikenal sebagai Resesi Hebat di Spanyol atau Depresi Besar Spanyol. Krisis ini bermula pada 2008 selama krisis keuangan dunia 2007-20008 . Pada tahun 2012, Spanyol terlambat berpartisipasi dalam krisis utang negara Eropa ketika tidak dapat menyelamatkan sektor keuangannya dan harus mengajukan paket penyelamatan 100 miliar euoro kepada Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM).
Penyebab utama krisis Spanyol adalah gelembung perumahan dan tingkat pertumbuhan PDB tinggi yang tidak berkelanjutan. Pendapatan pajak yang menggelembung dari sektor konstruksi dan investasi properti yang melonjak membuat pendapatan pemerintah Spanyol tetap surplus, meskipun pengeluaran meningkat tajam hingga tahun 2007 . Bank-bank di Spanyol melanggar standar Dewan Standar Akuntansi Internasional. Bank-bank di Spanyol mampu menyembunyikan kerugian dan volatilitas pendapatan, menyesatkan regulator, analis, dan investor, dan dengan demikian membiayai gelembung real estat Spanyol.
2. Yunani
Krisis keuangan yang terjadi di Yunani pada 2010 merupakan imbas krisis yang di Amerika yang disambut dengan kondisi keuangan negara itu. Salah satunya akumulasi defisit anggaran sebesar 6% selama 30 tahun. Ditambah lagi negara itu mengadopsi kebijakan moneter dengan seluruh Eropa. Gara-gara krisis ini Yunani mengalami gagal bayar atas utang yang jatuh tempo. Pada 2012 Yunani dinyatakan bangkrut setelah gagal membayar utang sebesar USD138 miliar. Beruntung Yunani kemudian mendapatkan bantuan dari IMF dan Eropa sebanyak USD160 miliar.
3. Rusia
Krisis keuangan Rusia yang juga disebut krisis rubel dimulai pada pertengahan Agustus 1998. Krisis ini mengakibatkan pemerintah Rusia dan Bank Sentral Rusia mendevaluasi rubel dan gagal membayar utangnya. Krisis tersebut berdampak parah pada ekonomi banyak negara tetangga mereka, seperti Lituania, Latvia, Estonia, Belarus, Kazakhstan, Moldova, Ukraina dan Uzbekistan. Salah satu penyebabnya adalah pinjaman luar negeri digunakan untuk membiayai investasi dalam negeri. Ketika tidak mampu membayar kembali pinjaman itu, rubel terpaksa terdevaluasi.
4. Spanyol
Krisis keuangan Spanyol terjadi pada rentang 2008–2014. Krisis di Negeri Matador ini juga dikenal sebagai Resesi Hebat di Spanyol atau Depresi Besar Spanyol. Krisis ini bermula pada 2008 selama krisis keuangan dunia 2007-20008 . Pada tahun 2012, Spanyol terlambat berpartisipasi dalam krisis utang negara Eropa ketika tidak dapat menyelamatkan sektor keuangannya dan harus mengajukan paket penyelamatan 100 miliar euoro kepada Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM).
Penyebab utama krisis Spanyol adalah gelembung perumahan dan tingkat pertumbuhan PDB tinggi yang tidak berkelanjutan. Pendapatan pajak yang menggelembung dari sektor konstruksi dan investasi properti yang melonjak membuat pendapatan pemerintah Spanyol tetap surplus, meskipun pengeluaran meningkat tajam hingga tahun 2007 . Bank-bank di Spanyol melanggar standar Dewan Standar Akuntansi Internasional. Bank-bank di Spanyol mampu menyembunyikan kerugian dan volatilitas pendapatan, menyesatkan regulator, analis, dan investor, dan dengan demikian membiayai gelembung real estat Spanyol.
Lihat Juga :