Biaya Perang Israel Bisa Capai Rp821,2 Triliun, Moody's: Merusak Parah Ekonomi
Selasa, 28 November 2023 - 11:35 WIB
Bagi Israel, sebagian besar guncangan ekonomi disebabkan oleh berkurangnya investasi, gangguan di pasar tenaga kerja, dan perlambatan pertumbuhan produktivitas, seperti diperingatkan para ekonom.
"Sementara, saat ketidakpastian tetap tinggi, kami percaya bahwa dampaknya terhadap ekonomi bisa lebih parah daripada di episode awal konflik militer dan kekerasan," tambah Muehlbronner.
Menurut Moody's, beban keuangan untuk Israel akan jauh lebih tinggi daripada operasi militer sebelumnya, seperti Protective Edge pada tahun 2014, atau Perang Lebanon Kedua di tahun 2006, yang berlangsung selama 34 hari dan menimbulkan biaya langsung sekitar USD2,5 miliar, atau 1,3% dari PDB.
Penurunan ekonomi yang membayangi mendorong Moody's untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Israel dari prediksi sebelumnya 3% menjadi 2,4% tahun ini. Dalam prospek 2024 yang pesimistis, lembaga pemeringkat melihat PDB bakal berkontraksi sekitar 1,5%.
Moody's juga menempatkan peringkat kredit A1 Israel pada tinjauan untuk kemungkinan penurunan peringkat, juga meramalkan bahwa konflik berkepanjangan akan memaksa pemerintah menghabiskan miliaran shekel untuk pertahanan, termasuk upah ribuan anggota militer yang direkrut.
Pengeluaran besar-besaran juga akan mencakup pendanaan untuk kompensasi bagi bisnis yang terkena dampak perang dan rekonstruksi masyarakat yang terkena efeknya. Sementara itu pendapatan negara, terutama pendapatan pajak, akan terus merosot karena konsumsi, di antara faktor-faktor permintaan lainnya, anjlok, dengan tidak adanya sekitar 18% tenaga kerja Israel selama perang.
"Sementara, saat ketidakpastian tetap tinggi, kami percaya bahwa dampaknya terhadap ekonomi bisa lebih parah daripada di episode awal konflik militer dan kekerasan," tambah Muehlbronner.
Menurut Moody's, beban keuangan untuk Israel akan jauh lebih tinggi daripada operasi militer sebelumnya, seperti Protective Edge pada tahun 2014, atau Perang Lebanon Kedua di tahun 2006, yang berlangsung selama 34 hari dan menimbulkan biaya langsung sekitar USD2,5 miliar, atau 1,3% dari PDB.
Penurunan ekonomi yang membayangi mendorong Moody's untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Israel dari prediksi sebelumnya 3% menjadi 2,4% tahun ini. Dalam prospek 2024 yang pesimistis, lembaga pemeringkat melihat PDB bakal berkontraksi sekitar 1,5%.
Moody's juga menempatkan peringkat kredit A1 Israel pada tinjauan untuk kemungkinan penurunan peringkat, juga meramalkan bahwa konflik berkepanjangan akan memaksa pemerintah menghabiskan miliaran shekel untuk pertahanan, termasuk upah ribuan anggota militer yang direkrut.
Pengeluaran besar-besaran juga akan mencakup pendanaan untuk kompensasi bagi bisnis yang terkena dampak perang dan rekonstruksi masyarakat yang terkena efeknya. Sementara itu pendapatan negara, terutama pendapatan pajak, akan terus merosot karena konsumsi, di antara faktor-faktor permintaan lainnya, anjlok, dengan tidak adanya sekitar 18% tenaga kerja Israel selama perang.
Lihat Juga :