PLN-Kemenko Marves Manfaatkan Limbah Pertanian-Perkebunan untuk Biomassa
Minggu, 03 Desember 2023 - 12:03 WIB
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan, peluncuran program ini sejalan dengan roadmap transisi energi. Selain itu pemanfaatan biomassa juga merupakan komitmen perusahaan meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT).
"Kebijakan Co-Firing Biomassa intensif dilakukan di Indonesia sebagai langkah konkret dalam mereduksi emisi karbon guna mencapai target NZE di tahun 2060 atau lebih cepat. Co-Firing Biomassa juga memiliki peran yang vital dalam akselerasi transisi energi di Tanah Air," ujar Darmawan.
Dia menjelaskan, Co-firing Biomassa memiliki keunggulan Levelized Cost of Electricity (LCOE) terendah dibanding akselerasi ke EBT lainnya. Selain itu, masyarakat lokal juga didorong memainkan peran penting dalam menyediakan bahan baku biomassa. Artinya, Co-Firing Biomassa tak hanya mendorong akselerasi transisi energi, namun juga menggerakkan ekonomi masyarakat lewat pembukaan lapangan kerja yang masif.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PLN EPI Iwan Agung Firstantara menjelaskan bahwa STAB merupakan jenis biomassa yang berasal dari limbah pertanian. Proses produksinya juga melibatkan masyarakat tani secara langsung.
Bahan baku STAB dapat berupa limbah atau residu tanaman pertanian atau perkebunan seperti sekam, jerami padi, bonggol jagung, bagasse, pucuk daun tebu, limbah aren, limbah sagu, residu kelapa, tandan kosong pelepah sawit, ranting-ranting pruning tanaman, dan lain-lain.
"Kami melihat banyak sekali limbah pertanian yang selama ini hanya ditimbun atau dibakar agar lahan bersih kembali. Nah Kami melihat potensi besar ini, maka kami terus berinovasi bagaimana memanfaatkan limbah yang tadinya tidak bermanfaat dan mengganggu bisa di utilisasi menjadi energi bersih bahkan mampu menciptakan nilai ekonomi baru bagi para petani di Indonesia," papar Iwan.
"Kebijakan Co-Firing Biomassa intensif dilakukan di Indonesia sebagai langkah konkret dalam mereduksi emisi karbon guna mencapai target NZE di tahun 2060 atau lebih cepat. Co-Firing Biomassa juga memiliki peran yang vital dalam akselerasi transisi energi di Tanah Air," ujar Darmawan.
Dia menjelaskan, Co-firing Biomassa memiliki keunggulan Levelized Cost of Electricity (LCOE) terendah dibanding akselerasi ke EBT lainnya. Selain itu, masyarakat lokal juga didorong memainkan peran penting dalam menyediakan bahan baku biomassa. Artinya, Co-Firing Biomassa tak hanya mendorong akselerasi transisi energi, namun juga menggerakkan ekonomi masyarakat lewat pembukaan lapangan kerja yang masif.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PLN EPI Iwan Agung Firstantara menjelaskan bahwa STAB merupakan jenis biomassa yang berasal dari limbah pertanian. Proses produksinya juga melibatkan masyarakat tani secara langsung.
Bahan baku STAB dapat berupa limbah atau residu tanaman pertanian atau perkebunan seperti sekam, jerami padi, bonggol jagung, bagasse, pucuk daun tebu, limbah aren, limbah sagu, residu kelapa, tandan kosong pelepah sawit, ranting-ranting pruning tanaman, dan lain-lain.
"Kami melihat banyak sekali limbah pertanian yang selama ini hanya ditimbun atau dibakar agar lahan bersih kembali. Nah Kami melihat potensi besar ini, maka kami terus berinovasi bagaimana memanfaatkan limbah yang tadinya tidak bermanfaat dan mengganggu bisa di utilisasi menjadi energi bersih bahkan mampu menciptakan nilai ekonomi baru bagi para petani di Indonesia," papar Iwan.
Lihat Juga :