Budi Daya Nanas, Bantu Petani Cegah Kebakaran di Lahan Gambut

Rabu, 12 Agustus 2020 - 22:50 WIB
Djarot bercerita, nanas ditanam di tengah penanaman pohon jelutung (Dyera spp) dan meranti. Sistem tumpang sari ini kini telah membuahkan hasil. Bantuan budi daya nanas dari BRG pada 2018 sudah membuahkan panen pada akhir 2019. Djarot menyebut, dari 10.000 pokok nanas, dihasilkan 6.000 hingga 7.000 pokok nanas baru dan dapat ditanam di area seluas satu hektare.

"Pasalnya pertumbuhan nanas nggak sama, ada yang besar, ada yang kecil. Kami mengeluarkan buah nanas yang besar-besar dulu, yang kecil ditunda," ucap dia.

Saat menghitung, dia pernah menjual sekitar 3.000 gandeng nanas. Gandeng merupakan hitungan untuk penjualan nanas. Setiap gandeng nanas terdapat dua buah nanas.

Dia menjual satu gandeng dengan kisaran harga Rp3.000 hingga Rp4.000. "Ya dikalikan saja dengan 3.000 gandeng," tambahnya. Selama proses penanaman, Djarot dan para petani mengaku tidak memiliki persoalan. Masalah baru muncul saat proses penjualan dan datangnya musim penghujan. "Kalau musim hujan, ke kebunnya nggak bisa karena banjir. Kami sulit mengakses kebun untuk mengambil buah," kata dia.

Djarot berharap ada lagi bantuan yang bisa dimanfaatkan masyarakat terutama untuk menyelesaikan persoalan penjualan. Sebab, pada fase inilah pokmas kerap mengalami kesulitan. Tidak hanya pada nanas, namun juga produk turunannya. Dia menyebut, Pokmas Mundam Jaya Makmur pernah mengolah keripik dan dodol berbahan nanas. Tapi, produk tersebut gagal meraih untung. "Kalau memang pihak luar bisa (mendirikan) pengolahan pabrik nanas yang besar kita siap mengumpulkan kelompok-kelompok," pungkasnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!