Jeritan Pengusaha Bus Pariwisata yang Kian Terpuruk di Tengah Pandemi

Minggu, 16 Agustus 2020 - 20:41 WIB
Kedua, informasi mengenai penegasan terbukanya objek wisata di suatu daerah yang disinggahi masyarakat memanfaatkan bus wisata belum terlalu tegas.

“Masih ada yang simpang siur. Ketika kami sudah ada DP oleh kelompok masyarakat untuk berwisata ke daerah tertentu, tiba-tiba dibatalkan, karena keraguan-raguan kelompok masyarakat itu tadi karena informasi Covid-19 dari pemerintah daerah setempat,” ungkap Yuli.

Yuli Sayuti bersama sejumlah pengusaha bis pariwisata meminta pemerintah juga ikut mendorong kampanye rasa aman naik bus seperti yang dilakukan sektor lain. (Baca juga: 5 Destinasi Terbaik Dunia 2020 Pilihan Wisatawan, Bali Salah Satunya )

Di sisi lain, stimulus maupun relaksasi yang sudah diberikan pemerintah terutama untuk penangguhan cicilan bisa diperpanjang hingga enam bulan ke depan.

“Itu belum yang lain, kami ada banyak perizinan yang harus dibayar kembali. Misalnya perpanjangan STNK, uji KIR yang sudah mulai masuk jatuh tempo,” ungkapnya.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, bus menjadi salah satu darah untuk sektor transportasi darat. Oleh karena itu, bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP) dan bus pariwisata butuh dikampanyekan untuk kembali bergairah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!