Jeritan Pengusaha Bus Pariwisata yang Kian Terpuruk di Tengah Pandemi

Minggu, 16 Agustus 2020 - 20:41 WIB
"Kami juga butuh dikampanyekan bus aman dan nyaman di masa new normal. Justru urat nadi itu ada di jalan raya dimana angkutan bus menjadi darahnya," ujarnya.

Menurut dia, angkutan bus juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat dalam operasinya. Namun, di lapangan bus seringkali menerima tindakan diskriminatif.

Contohnya, penumpang bus AKAP dengan jurusan Jakarta-Yogakarta sudah tiba di daerah Wates malah dilarang masuk dan diperiksa macam-macam. Padahal, sebelumnya tidak ada pemeriksaan apapun yang dilakukan petugas.

Justru sebaliknya, banyak kendaraan pribadi bisa masuk kemana-mana tanpa ada pemeriksaan apapun. Hal ini lah yang membuat penumpang bus enggan naik kendaraan ini dan memilih menggunakan transportasi pribadi ataupun angkutan ilegal dengan plat hitam. (Baca juga: Catat, Indonesia Bisa Jadi Negara Pengguna Angkutan Umum Terbesar )

Dia meminta peran stkaholder terkait, terutama dari aparat berwenang maupun pemerintah daerah terkait untuk fokus memperhatikan masalah-masalah yang terjadi di lapangan.

“Kita sama-sama melawan Covid-19, kami terutama pengelola arma bis, memastikan penerapan protokol Covid-19 berjalan, baik itu kepada pekerja kami di lapangan, maupun penerapan sebagaimana diatur dalam surat edaran,” pungkasnya.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!