PLN IP Dukung Capaian Target NDC Lewat Perdagangan Karbon
Jum'at, 26 April 2024 - 16:21 WIB
PLTU Suralaya menjadi penyumbang penurunan karbon terbesar sekitar 1,5 juta ton CO2. FOTO/dok.SINDOnews
JAKARTA - PLN Indonesia Power ( PLN IP ) berkomitmen mendukung penurunan emisi dan mengakselerasi transisi energi melalui perdagangan karbon atau carbon trading. PLN IP menargetkan penjualan dua kali lipat pada tahun-tahun berikutnya dibandingkan 2023.
Direktur Utama PLN IP, Edwin Nugraha Putra, mengatakan carbon trading merupakan inovasi bisnis PLN yang dapat mendukung pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2060. PLN IP juga telah menerapkannya, ditandai dengan diperolehnya verifikasi nilai emisi Gas Rumah Kaca dari Lembaga Validasi dan Verifikasi Gas Rumah Kaca (GRK) independent terakreditasi Sucofindo di sejumlah Unit Pembangkit PLN IP.
"Carbon trading menjadi pengembangan bisnis beyond KWh yang juga dapat menekan emisi karbon," kata Edwin melalui keterangan tertulis, Jumat (25/4/2024).
Baca Juga: Lulus Bisa Kerja di PLN, Penerimaan Mahasiswa Baru ITPLN Diperpanjang
Edwin mengungkapkan sepanjang 2023 carbon trading PLN IP telah mencapai 2.428.203 ton CO2 dan akan meningkat dua kali lipat pada tahun-tahun selanjutnya. "Target carbon trading pada tahun-tahun yang akan datang yaitu dua kali lipat dari tahun 2023," ujar Edwin.
Adapun unit pembangkit PLN Indonesia Power yang berkontribusi pada carbon trading tahun 2023 ada 10 Unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Di antaranya PLTU Suralaya, PLTU Banten 1 Suralaya, PLTU Adipala, PLTU Ombilin, PLTU Labuan, PLTU Pangkalan Susu, PLTU Lontar, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Labuan Angin dan PLTU Teluk Sirih. "PLTU Suralaya menjadi penyumbang penurunan karbon terbesar yaitu sekitar 1,5 juta ton CO2," ujar Edwin.
Direktur Utama PLN IP, Edwin Nugraha Putra, mengatakan carbon trading merupakan inovasi bisnis PLN yang dapat mendukung pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2060. PLN IP juga telah menerapkannya, ditandai dengan diperolehnya verifikasi nilai emisi Gas Rumah Kaca dari Lembaga Validasi dan Verifikasi Gas Rumah Kaca (GRK) independent terakreditasi Sucofindo di sejumlah Unit Pembangkit PLN IP.
"Carbon trading menjadi pengembangan bisnis beyond KWh yang juga dapat menekan emisi karbon," kata Edwin melalui keterangan tertulis, Jumat (25/4/2024).
Baca Juga: Lulus Bisa Kerja di PLN, Penerimaan Mahasiswa Baru ITPLN Diperpanjang
Edwin mengungkapkan sepanjang 2023 carbon trading PLN IP telah mencapai 2.428.203 ton CO2 dan akan meningkat dua kali lipat pada tahun-tahun selanjutnya. "Target carbon trading pada tahun-tahun yang akan datang yaitu dua kali lipat dari tahun 2023," ujar Edwin.
Adapun unit pembangkit PLN Indonesia Power yang berkontribusi pada carbon trading tahun 2023 ada 10 Unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Di antaranya PLTU Suralaya, PLTU Banten 1 Suralaya, PLTU Adipala, PLTU Ombilin, PLTU Labuan, PLTU Pangkalan Susu, PLTU Lontar, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Labuan Angin dan PLTU Teluk Sirih. "PLTU Suralaya menjadi penyumbang penurunan karbon terbesar yaitu sekitar 1,5 juta ton CO2," ujar Edwin.
Lihat Juga :