Turki Stop Perdagangan dengan Israel, Importir Zionis Kelimpungan

Selasa, 28 Mei 2024 - 13:51 WIB
Meski mengakui beberapa alternatif kemungkinan akan menimbulkan biaya yang lebih tinggi, Israel meyakini tidak akan ada gangguan yang signifikan atau terus-menerus terhadap perekonomian negara tersebut akibat tindakan Turki. Perdagangan bilateral antara kedua negara turun hampir 23% menjadi USD6,2 miliar pada tahun 2023, menurut data pemerintah Israel, dengan impor Israel berjumlah sekitar tiga perempat dari angka tersebut.

Setelah tindakan Ankara, beberapa perusahaan ekspor Turki mengatakan kepada Reuters bahwa mereka mencari cara untuk mengirim barang ke Israel melalui negara ketiga. Namun, eksportir dan importir di Turki dan Israel mengatakan tidak ada tanda-tanda bahwa hal ini akan berhasil.

Para pejabat perdagangan mengatakan Yunani, Italia, dan negara-negara lain bersedia mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Turki dan kesepakatan sudah dekat, namun masalah utamanya adalah menemukan tujuan alternatif untuk ekspor Israel senilai lebih dari USD1,5 miliar, yang sebagian besar berupa bahan bakar, bahan kimia, dan semikonduktor.

Perdagangan harus dapat diandalkan dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami merasa bahwa tujuan kami adalah menemukan sumber yang dapat diandalkan untuk jangka panjang,” kata Roey Fisher, kepala badan Administrasi Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perekonomian.

Presiden Turki Tayyip Erdogan sangat kritis terhadap serangan militer Israel di Gaza yang menurut data Kementerian Kesehatan Gaza meyebabkan hampir 36.000 warga Palestina tewas. Turki juga telah menarik duta besarnya untuk Israel pada bulan November untuk konsultasi dan menangguhkan penerbangan antara kedua negara.

Sebagai balasan atas larangan perdagangan tersebut, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengatakan ia akan membatalkan perjanjian perdagangan bebas dengan Turki – setidaknya sampai Erdogan mundur dan digantikan oleh "seorang pemimpin yang waras dan tidak membenci Israel". Rencana tersebut, kata dia, akan diajukan ke kabinet untuk mendapat persetujuan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!