Semakin Perkasa Atas Dolar, Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp15.550
Senin, 19 Agustus 2024 - 16:41 WIB
Mengawali pekan ini rupiah menguat 143 poin dan ditutup di level Rp15.550. Foto/Dok
JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan hari ini ditutup menguat 143 poin atau 0,91 persen ke level Rp15.550 setelah sebelumnya di Rp15.693 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat dibuka pada level Rp15.625 per USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar AS dipengaruhi investor bertaruh pada nada dovish yang muncul dalam notulen rapat kebijakan Federal Reserve bulan Juli dan pidato Ketua Jerome Powell yang akan datang di Jackson Hole.
Baca Juga : Rupiah Perkasa dalam Sepekan, Menguat 1,57 persen
“Notulen, yang akan dirilis pada hari Rabu, dan pidato Powell pada hari Jumat kemungkinan akan menjadi pendorong utama volatilitas pergerakan mata uang untuk minggu ini,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Senin (19/8/2024).
Volatilitas juga didorong oleh serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan - khususnya, laporan pekerjaan yang lemah untuk bulan Juli, karena investor khawatir ekonomi terbesar di dunia itu akan mengalami resesi dan bahwa The Fed lambat dalam melonggarkan suku bunga.
Para pelaku pasar telah sepenuhnya memperhitungkan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin dari Fed pada bulan September, dengan peluang 24,5 persen untuk penurunan sebesar 50 bps. Kontrak berjangka menunjukkan pelonggaran lebih dari 90 bps pada akhir tahun.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar AS dipengaruhi investor bertaruh pada nada dovish yang muncul dalam notulen rapat kebijakan Federal Reserve bulan Juli dan pidato Ketua Jerome Powell yang akan datang di Jackson Hole.
Baca Juga : Rupiah Perkasa dalam Sepekan, Menguat 1,57 persen
“Notulen, yang akan dirilis pada hari Rabu, dan pidato Powell pada hari Jumat kemungkinan akan menjadi pendorong utama volatilitas pergerakan mata uang untuk minggu ini,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Senin (19/8/2024).
Volatilitas juga didorong oleh serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan - khususnya, laporan pekerjaan yang lemah untuk bulan Juli, karena investor khawatir ekonomi terbesar di dunia itu akan mengalami resesi dan bahwa The Fed lambat dalam melonggarkan suku bunga.
Para pelaku pasar telah sepenuhnya memperhitungkan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin dari Fed pada bulan September, dengan peluang 24,5 persen untuk penurunan sebesar 50 bps. Kontrak berjangka menunjukkan pelonggaran lebih dari 90 bps pada akhir tahun.
Lihat Juga :