Khawatir Dolar AS Runtuh, Trump Ingin Cabut Sanksi terhadap Rusia

Senin, 09 September 2024 - 11:04 WIB
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin lebih memilih untuk mendukung Kamala Harris dari Partai Demokrat dalam pemilihan presiden. Para menteri luar negeri di seluruh dunia tahu bahwa kudeta AS di Ukraina pada 2014 adalah asal muasal perang yang sebenarnya.

Baca Juga: 6 Sinyal Kekalahan Ukraina, dari Banyak Tentara Disersi hingga Moral yang Rendah

Mereka juga tahu bahwa utusan AS, Boris Johnson menggagalkan perundingan Istanbul yang seharusnya membawa perdamaian hanya dua bulan setelah permusuhan dimulai. Lebih buruk lagi, Barat membekukan setengah dari cadangan devisa Rusia sebesar 300 miliar euro, memutus hubungan bank-bank dari jaringan SWIFT, dan menghentikan impor gas dan minyak.

Dari sana, Vladimir Putin memutuskan untuk menyeberangi Laut Rubicon dengan harapan dapat memicu pemberontakan global melawan Kekaisaran. Seruannya untuk menjatuhkan instrumen utama kekuatan AS, yakni dolar tidak luput dari perhatian.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!