Perang Inflasi AS Belum Usai, Rupiah Ambruk 4 Hari Beruntun

Kamis, 03 Oktober 2024 - 16:01 WIB
Sebelumnya, Presiden Richmond Fed Thomas Barkin mengatakan pada hari Rabu bahwa pemotongan 50 basis poin bulan lalu merupakan pengakuan bahwa suku bunga kebijakannya "tidak sinkron" dengan kondisi ekonomi saat ini, tetapi tidak boleh dianggap sebagai tanda bahwa pertempuran melawan inflasi telah berakhir.

Selain itu, prospek konflik Timur Tengah yang meluas yang dapat mengganggu aliran minyak mentah dari wilayah pengekspor utama membayangi prospek pasokan global yang lebih kuat. Israel mengebom pusat kota Beirut pada dini hari Kamis, menewaskan sedikitnya enam orang, setelah pasukannya mengalami hari paling mematikan di garis depan Lebanon dalam setahun bentrokan melawan kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran.

Serangan itu terjadi sehari setelah Iran menembakkan lebih dari 180 rudal balistik ke Israel dalam eskalasi permusuhan, yang telah merembes keluar dari Israel dan wilayah Palestina yang diduduki ke Lebanon dan Suriah.

Dari sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal untuk membuka ruang pemangkasan suku bunga acuan atau BI Rate lebih lanjut hingga akhir tahun ini, seiring dengan kondisi inflasi yang rendah, nilai tukar rupiah yang stabil, dan pertumbuhan ekonomi yang perlu terus didorong.

Kemudian, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi, seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), dan Eropa, dan perkembangan ekonomi China. Adapun BI memangkas BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2024 lalu sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen. Sementara, suku bunga AS atau Fed Funds Rate (FFR) pada September 2024 menjadi 4,75 – 5 persen.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!