Pagebluk Covid-19 Robohkan Konsumsi, Seberapa Manjur BLT Pekerja

Jum'at, 28 Agustus 2020 - 17:16 WIB
“Masyarakat saat ini tidak bisa melakukan demand. Orang-orang di-PHK. kemungkinan besar mereka tidak punya uang. Multiplier effect, mereka tidak bisa berbelanja. Kalaupun mereka punya uang, dengan situasi krisis dan tidak pasti ini, mereka akan saving,” ujarnya saat dihubungi SINDOnews.

Rifki menilai BLT terhadap pegawai ini merupakan langkah tepat untuk mendorong permintaan. “Mereka mau konsumsi tapi tidak punya uang. Pemerintah ini yang punya power untuk menggerakan demand. Ketika masyarakat mendapatkan uang tunai secara langsung otomatis, tidak punya pilihan lain untuk belanja,” tuturnya.

(Baca Juga: Membajak Pandemi, Beruntung Dapat Rekening 14 Juta Pekerja dalam Satu Bulan )

Karena bantuan ini untuk kelas menengah-bawah, mereka diharapkan segera membelanjakan ke pasar, warung-warung di sekitar rumah, dan usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, Rifki menilai akan terjadi pola belanja yang berbeda antara pekerja yang masih single dengan yang sudah berkeluarga.

“Orang yang tidak memiliki keluarga spending-nya bisa diatur dalam artian tidak terlalu banyak kebutuhan. Mereka yang memiliki tanggungan atau keluarga, mereka akan spending lebih besar,” ucapnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!