Utang AS Tembus Rp558.000 Triliun, China Cari Tempat yang Lebih Aman
Senin, 11 November 2024 - 20:19 WIB
Ini akan berarti risiko yang lebih besar bagi China dalam memegang aset-aset berdenominasi dolar AS dan menambahkan bahwa China harus bersiap-siap untuk skenario terburuk. Misalnya, risiko penjualan paksa atau pembekuan aset-aset terkait AS juga perlu dipertimbangkan.
Belum lagi risiko perang dagang yang dilontarkan Donald Trump. Trump memulai perang dagang dengan China pada 2018 setahun, setelah masa jabatan pertamanya sebagai presiden AS dan mendorong pemisahan diri Amerika dari negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Pada sebuah rapat umum kampanye di bulan September, ia mengancam akan mengenakan tarif 100 persen pada negara-negara yang menghindari dolar AS sebuah langkah yang terlihat sebagai bagian dari rencananya untuk melindungi peran dominan mata uang tersebut dalam sistem keuangan global. Dolar AS berfungsi sebagai mata uang utama untuk perdagangan internasional, cadangan bank sentral, dan penerbitan utang global.
Obligasi, tagihan, dan surat berharga yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan AS yang dipegang oleh bank-bank sentral dan institusi-institusi di seluruh dunia sebagai surat berharga telah dipandang sebagai aset yang aman (safe haven). Cadangan devisa China mulai tumbuh di tahun 1990-an sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi yang lebih terbuka.
Krisis keuangan Asia 1997, ketika mata uang Asia didevaluasi, mendorong Beijing untuk membangun cadangan devisa untuk melindungi diri dari guncangan eksternal. Cadangan devisanya meningkat karena perdagangan internasional dan investasi asing langsung berkembang selama bertahun-tahun, dengan data Administrasi Valuta Asing Negara menunjukkan bahwa jumlahnya mencapai USD3,261 triliun bulan lalu, turun dari USD3,316 triliun di bulan September.
Meskipun China tidak mengungkapkan di mana mereka menyimpan uang, sebagian besar diinvestasikan dalam utang pemerintah AS, menurut data resmi AS. Pada Agustus, kepemilikan China atas surat-surat berharga AS mencapai USD774,6 miliar menjadikannya pemegang utang pemerintah AS terbesar kedua di luar negeri setelah Jepang yang mencapai USD1,13 triliun.
Baca Juga: Cerita Negara Islam Ini Cemas Situs Senjata Nuklirnya Dibom Israel
Belum lagi risiko perang dagang yang dilontarkan Donald Trump. Trump memulai perang dagang dengan China pada 2018 setahun, setelah masa jabatan pertamanya sebagai presiden AS dan mendorong pemisahan diri Amerika dari negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Pada sebuah rapat umum kampanye di bulan September, ia mengancam akan mengenakan tarif 100 persen pada negara-negara yang menghindari dolar AS sebuah langkah yang terlihat sebagai bagian dari rencananya untuk melindungi peran dominan mata uang tersebut dalam sistem keuangan global. Dolar AS berfungsi sebagai mata uang utama untuk perdagangan internasional, cadangan bank sentral, dan penerbitan utang global.
Obligasi, tagihan, dan surat berharga yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan AS yang dipegang oleh bank-bank sentral dan institusi-institusi di seluruh dunia sebagai surat berharga telah dipandang sebagai aset yang aman (safe haven). Cadangan devisa China mulai tumbuh di tahun 1990-an sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi yang lebih terbuka.
Krisis keuangan Asia 1997, ketika mata uang Asia didevaluasi, mendorong Beijing untuk membangun cadangan devisa untuk melindungi diri dari guncangan eksternal. Cadangan devisanya meningkat karena perdagangan internasional dan investasi asing langsung berkembang selama bertahun-tahun, dengan data Administrasi Valuta Asing Negara menunjukkan bahwa jumlahnya mencapai USD3,261 triliun bulan lalu, turun dari USD3,316 triliun di bulan September.
Meskipun China tidak mengungkapkan di mana mereka menyimpan uang, sebagian besar diinvestasikan dalam utang pemerintah AS, menurut data resmi AS. Pada Agustus, kepemilikan China atas surat-surat berharga AS mencapai USD774,6 miliar menjadikannya pemegang utang pemerintah AS terbesar kedua di luar negeri setelah Jepang yang mencapai USD1,13 triliun.
Baca Juga: Cerita Negara Islam Ini Cemas Situs Senjata Nuklirnya Dibom Israel
Lihat Juga :