Rubel Merosot Tajam, Putin Minta Warga Rusia Tidak Panik

Sabtu, 30 November 2024 - 22:01 WIB
Penurunan terbaru rubel terjadi setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap Gazprombank, salah satu pemberi pinjaman terbesar di Rusia. AS membatasi kemampuan bank ini untuk mengakses pasar keuangan global dan menangani pembayaran energi.

Rusia juga menembakkan sebuah rudal hipersonik ke Ukraina minggu lalu setelah lawannya meluncurkan rudal ke target-target di dalam wilayah Rusia untuk pertama kalinya. Eskalasi ini telah meningkatkan kekhawatiran akan gangguan ekonomi lebih lanjut.

Baca Juga: Intelijen Rusia Bongkar Rencana Barat Menduduki Ukraina dengan 100 Ribu Pasukan

Rubel yang melemah menguntungkan para eksportir Rusia dengan membuat barang-barang mereka lebih kompetitif di pasar global. Namun, hal ini juga mengancam percepatan inflasi dengan menaikkan biaya impor, sehingga para penjual tidak punya banyak pilihan selain menaikkan harga. Inflasi yang membandel telah mendorong bank sentral Rusia untuk menaikkan suku bunga utama menjadi 21%, level tertinggi sejak 2003.

Perekonomian Rusia telah menderita akibat sanksi-sanksi Barat yang diberlakukan sejak invasi Putin ke Ukraina, dengan pendapatan energi yang merosot hampir seperempatnya tahun lalu. Negara-negara lain, seperti India, telah membeli minyak Rusia sebagai gantinya, meredam dampak dari pembatasan harga dan hukuman lainnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!