Rubel Merosot Tajam, Putin Minta Warga Rusia Tidak Panik

Sabtu, 30 November 2024 - 22:01 WIB
loading...
Rubel Merosot Tajam,...
Presiden Rusia Vladimir Putin meminta warga Rusia tidak perlu panik mengenai jatuhnya rubel ke posisi terendah dalam dua tahun terakhir. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin meminta warga Rusia tidak perlu panik mengenai jatuhnya rubel ke posisi terendah dalam dua tahun terakhir. Namun, para analis mengkhawatirkan terkait kondisi tersebut.

"Situasi terkendali dan sama sekali tidak ada alasan untuk panik," ujar Putin menurut laporan dari kantor berita RIA Novosti, dilanir dari Business Insider, Sabtu (30/11/2024).

Baca Juga: Rubel Ambruk, Bank Sentral Rusia Setop Beli Dolar AS

Menurut Putin penurunan rubel tidak hanya disebabkan inflasi tetapi juga karena faktor lain seperti pembayaran anggaran, fluktuasi harga minyak dan indikator musiman.

Mata uang Rusia diperdagangkan pada 114 rubel per dolar AS pada hari Rabu, level terlemah sejak Maret 2022, tak lama setelah invasi Ukraina dimulai. Kursnya sekitar 84 rubel per dolar AS pada awal Agustus, yang berarti mata uang ini telah terdepresiasi 36% dalam waktu kurang dari empat bulan. Sementara pada Jumat, 1 dolar AS bernilai sekitar 108 rubel.

Bank Sentral Rusia turun tangan untuk menopang rubel yang melemah. Bank sentral menangguhkan pembelian mata uang asing di pasar domestik selama sisa tahun ini untuk mengurangi volatilitas.

Penurunan terbaru rubel terjadi setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap Gazprombank, salah satu pemberi pinjaman terbesar di Rusia. AS membatasi kemampuan bank ini untuk mengakses pasar keuangan global dan menangani pembayaran energi.

Rusia juga menembakkan sebuah rudal hipersonik ke Ukraina minggu lalu setelah lawannya meluncurkan rudal ke target-target di dalam wilayah Rusia untuk pertama kalinya. Eskalasi ini telah meningkatkan kekhawatiran akan gangguan ekonomi lebih lanjut.

Baca Juga: Intelijen Rusia Bongkar Rencana Barat Menduduki Ukraina dengan 100 Ribu Pasukan

Rubel yang melemah menguntungkan para eksportir Rusia dengan membuat barang-barang mereka lebih kompetitif di pasar global. Namun, hal ini juga mengancam percepatan inflasi dengan menaikkan biaya impor, sehingga para penjual tidak punya banyak pilihan selain menaikkan harga. Inflasi yang membandel telah mendorong bank sentral Rusia untuk menaikkan suku bunga utama menjadi 21%, level tertinggi sejak 2003.

Perekonomian Rusia telah menderita akibat sanksi-sanksi Barat yang diberlakukan sejak invasi Putin ke Ukraina, dengan pendapatan energi yang merosot hampir seperempatnya tahun lalu. Negara-negara lain, seperti India, telah membeli minyak Rusia sebagai gantinya, meredam dampak dari pembatasan harga dan hukuman lainnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rekomendasi
Badan Gizi Nasional...
Badan Gizi Nasional dan Reduksi Orkestrasi Pemenuhan Gizi
Prabowo Pakai Peci Karanji...
Prabowo Pakai Peci Karanji Hadiri Pekan Petani dan Nelayan di Gorontalo
Sidang PK Nikita Mirzani...
Sidang PK Nikita Mirzani Ditunda hingga 1 Juli 2026, Kuasa Hukum Ungkap Alasannya
Berita Terkini
Pascapengumuman MSCI,...
Pascapengumuman MSCI, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,62% ke Level 6.002
Harga Emas Terjun Rp18...
Harga Emas Terjun Rp18 Ribu, Hari Ini 1 Gram Dijual Rp2.655.000 per Gram
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
MNC Sekuritas Gelar...
MNC Sekuritas Gelar SPM Level 2 Bersama IBI Kesatuan Bogor: Mengenal Analisis Teknikal
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Menguat 0,44 Persen ke Level 6.128
MSCI Tahan Status Emerging...
MSCI Tahan Status Emerging Market Indonesia, OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Jalan Terus
Infografis
5 Kapal Selam Serang...
5 Kapal Selam Serang Terbaik, AS dan Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved