Rajin Keruk Harta Karun Emas di Afrika, Perusahaan China Gelontorkan Miliaran Dolar

Minggu, 01 Desember 2024 - 07:55 WIB
Diketahui harga emas telah memperpanjang tren kenaikan tahun ini hingga tembus USD2.600 per ons, naik dari sekitar USD2.000 pada akhir tahun lalu. Salah satu pendorongnya karena investor mencari investasi aman di logam ketika diselimuti ketidakpastian geopolitik yang meningkat seiring konflik di Ukraina dan Timur Tengah.

China telah melakukan pembelian emas pada tahun 2022 dan 2023, yang diperkirakan telah mendorong harga naik. Pada tahun 2023, People's Bank of China, bank sentral negara itu, meningkatkan cadangan emasnya sekitar sepertiga.

Namun, trennya telah meruncing. Pada Oktober, Beijing menahan diri untuk tidak membeli lebih banyak emas untuk cadangannya selama enam bulan berturut-turut.

Menurut Dewan Emas Dunia, kepemilikan emas resmi China tetap tidak berubah selama bulan ketujuh berturut-turut pada bulan Oktober sebesar 2.264 ton (72,8 juta ons).

Pangsa emas dari cadangan devisa resmi China naik menjadi 5,7% karena harga komoditas terus melonjak, kata dewan dalam sebuah laporan awal bulan ini.

Charlie Robertson, kepala strategi makro di perusahaan manajemen aset FIM Partners, mengatakan, China memiliki alasan bagus untuk mendiversifikasi cadangan devisanya dari Treasury AS menuju emas dan aset lainnya sejak Washington memimpin pembekuan aset Rusia pada tahun 2022.

"Membeli tambang emas di Afrika adalah cara cerdas untuk mengamankan aliran emas untuk cadangan (valuta asing) China," kata Robertson.

Dia mengatakan, bahwa jika Beijing menyerang Taiwan akhir dekade ini, mereka mungkin ingin memaksimalkan cadangan emasnya untuk melindungi diri dari sanksi AS.

Baca Juga: China Terus Menumpuk Cadangan Emas Miliknya, Kini Tembus 2.092 Ton

Analis geoekonomi Afrika, Sub-Sahara Aly-Khan Satchu mengatakan, terbukti bahwa China telah merebut kendali pasar logam mulia dari Barat dan lembaga-lembaga seperti Commodity Exchange (Comex) yang berbasis di New York.

Satchu mengatakan ini adalah perkembangan geoekonomi yang besar. "China jelas beroperasi di hulu dan hilir, dan Afrika mewakili peluang untuk mengunci aset hulu," katanya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!