Bashar al-Assad Terguling, Harga Minyak Merangkak Naik
Senin, 09 Desember 2024 - 12:52 WIB
Harga minyak dunia merangkak naik seiring meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah pascatumbangnya rezim Bashar al-Assad di Suriah. FOTO/Ilustrasi
JAKARTA - Harga minyak merangkak naik pada awal pekan ini mengiringi kejatuhan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad yang membawa ketidakpastian yang lebih besar ke kawasan Timur Tengah. Kendati demikian, kenaikan harga minyak relatif terbatas, terkait prospek permintaan yang menurun untuk tahun mendatang.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik 36 sen, atau 0,51%, menjadi USD71,48 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 38 sen, atau 0,57%, menjadi USD67,58 per barel.
"Perkembangan di Suriah telah menambah lapisan ketidakpastian politik baru di Timur Tengah, yang memberikan dukungan bagi pasar," kata Tomomichi Akuta, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting seperti dilansir Reuters, Senin (9/12/2024). "Namun, penurunan harga di Arab Saudi dan perpanjangan pemangkasan produksi OPEC+ minggu lalu menggarisbawahi lemahnya permintaan dari China, yang mengindikasikan pasar mungkin melemah menjelang akhir tahun," imbuhnya.
Baca Juga: Begini Kronologi Bashar al-Assad Digulingkan dan Kabur ke Rusia
Akuta menambahkan,investor juga tengah mencermati tanda-tanda awal dampak apa pun terhadap pasar dari kebijakan energi dan Timur Tengah yang diharapkan oleh Presiden terpilih AS Donald Trump.
Saudi Aramco, eksportir minyak mentah terbesar di dunia, telah menurunkan harga Januari 2025 untuk pembeli Asia ke level terendah sejak awal 2021 karena lemahnya permintaan dari importir utamaChina membebani pasar. Pada hari Kamis (5/12), OPEC+ mengumumkan penundaan dimulainya peningkatan produksi minyak selama tiga bulan hingga April, dan memperpanjang penghentian penuh pemotongan produksi selama satu tahun hingga akhir tahun 2026.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik 36 sen, atau 0,51%, menjadi USD71,48 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 38 sen, atau 0,57%, menjadi USD67,58 per barel.
"Perkembangan di Suriah telah menambah lapisan ketidakpastian politik baru di Timur Tengah, yang memberikan dukungan bagi pasar," kata Tomomichi Akuta, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting seperti dilansir Reuters, Senin (9/12/2024). "Namun, penurunan harga di Arab Saudi dan perpanjangan pemangkasan produksi OPEC+ minggu lalu menggarisbawahi lemahnya permintaan dari China, yang mengindikasikan pasar mungkin melemah menjelang akhir tahun," imbuhnya.
Baca Juga: Begini Kronologi Bashar al-Assad Digulingkan dan Kabur ke Rusia
Akuta menambahkan,investor juga tengah mencermati tanda-tanda awal dampak apa pun terhadap pasar dari kebijakan energi dan Timur Tengah yang diharapkan oleh Presiden terpilih AS Donald Trump.
Saudi Aramco, eksportir minyak mentah terbesar di dunia, telah menurunkan harga Januari 2025 untuk pembeli Asia ke level terendah sejak awal 2021 karena lemahnya permintaan dari importir utamaChina membebani pasar. Pada hari Kamis (5/12), OPEC+ mengumumkan penundaan dimulainya peningkatan produksi minyak selama tiga bulan hingga April, dan memperpanjang penghentian penuh pemotongan produksi selama satu tahun hingga akhir tahun 2026.
Lihat Juga :