Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel: Gas Rusia Adalah Win-win Solution
Kamis, 12 Desember 2024 - 08:53 WIB
Namun seperti diketahui menyusul eskalasi konflik Rusia-Ukraina, Jerman harus mencari gas di tempat lain karena "ledakan harga," kata Merkel.
Ia juga memberikan catatan bahwa, hal ini akan terjadi jauh lebih awal jika Berlin berhenti melakukan bisnis dengan Moskow selama masa jabatannya. "Saya mempercayai ini semua masuk akal untuk mendapatkan gas degan harga yang paling terjangkau," katanya kepada France 2.
Sebelumnya, Merkel juga membela keputusan untuk membangun Nord Stream 2, dengan menekankan "tidak mendapat dukungan dari komunitas bisnis untuk menghentikan perdagangan gas dengan Rusia" pada saat itu. Proyek ini diluncurkan pada tahun 2015 dan pipa pertama diletakkan pada tahun 2018.
Sementara itu pemerintahan pengganti Merkel yakni Olaf Scholz,telah menuduh Moskow "menutup" gas ke Jerman, mitra koalisinya Robert Habeck telah bergerak untuk mengakhiri perdagangan energi jauh sebelum konflik Ukraina dan sanksi Uni Eropa terhadap Rusia menjadi dalih.
Pemimpin Partai Hijau itu mempresentasikan melepaskan gas untuk beralih ke "energi terbarukan" sebagai pilihan kebijakan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Berlin dengan demikian menolak untuk mensertifikasi pipa Nord Stream 2 yang baru selesai pada Januari 2022. Di sisi lain Nord Stream 1 dihancurkan oleh serangkaian ledakan bawah air pada September 2022. Investigasi oleh Jerman, Swedia, dan Denmark belum menemukan pelakunya, meskipun laporan media Jerman menyalahkan sekelompok oknum Ukraina.
Ia juga memberikan catatan bahwa, hal ini akan terjadi jauh lebih awal jika Berlin berhenti melakukan bisnis dengan Moskow selama masa jabatannya. "Saya mempercayai ini semua masuk akal untuk mendapatkan gas degan harga yang paling terjangkau," katanya kepada France 2.
Sebelumnya, Merkel juga membela keputusan untuk membangun Nord Stream 2, dengan menekankan "tidak mendapat dukungan dari komunitas bisnis untuk menghentikan perdagangan gas dengan Rusia" pada saat itu. Proyek ini diluncurkan pada tahun 2015 dan pipa pertama diletakkan pada tahun 2018.
Sementara itu pemerintahan pengganti Merkel yakni Olaf Scholz,telah menuduh Moskow "menutup" gas ke Jerman, mitra koalisinya Robert Habeck telah bergerak untuk mengakhiri perdagangan energi jauh sebelum konflik Ukraina dan sanksi Uni Eropa terhadap Rusia menjadi dalih.
Pemimpin Partai Hijau itu mempresentasikan melepaskan gas untuk beralih ke "energi terbarukan" sebagai pilihan kebijakan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Berlin dengan demikian menolak untuk mensertifikasi pipa Nord Stream 2 yang baru selesai pada Januari 2022. Di sisi lain Nord Stream 1 dihancurkan oleh serangkaian ledakan bawah air pada September 2022. Investigasi oleh Jerman, Swedia, dan Denmark belum menemukan pelakunya, meskipun laporan media Jerman menyalahkan sekelompok oknum Ukraina.
Lihat Juga :