Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Progresif Bantu APBN 2024 Tumbuh Positif
Rabu, 15 Januari 2025 - 11:39 WIB
Bea Cukai mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2024 dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 4,9% (yoy). Foto/Dok
JAKARTA - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) 2024 konsisten jaga stabilitas ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan. APBN 2024 berhasil menjalankan peran sebagai penyangga (shock absorber) dalam melindungi masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas fiskal penerkonomian nasional. Kontribusi nyata pun ditunjukkan Bea Cukai, melalui surplus penerimaan di berbagai sektor, baik impor, ekspor, maupun cukai.
Dalam Konferensi APBN 2024, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, bahwa pendapatan negara pada tahun 2024 mencapai Rp2.842,5 triliun, tumbuh sebesar 2,1% (yoy). Sementara itu, belanja negara tercatat sebesar Rp3.350,3 triliun, atau meningkat 7,3% (yoy).
Baca Juga: Pendapatan Negara di Sepanjang 2024 Tembus Rp2.842,5 Triliun, Berikut Rinciannya
Meskipun terdapat defisit APBN sebesar Rp507,8 triliun, atau setara dengan 2,29% dari PDB, tetapi kondisi APBN 2024 dinilai tetap terkendali di tengah ketidakpastian global.
Secara rinci, pada semester I 2024 perekonomian Indonesia menghadapi tekanan berat seperti situasi geopolitik, fenomena El Nino, dan fluktuasi harga komoditas. Beberapa kondisi krusial pun terjadi seperti inflasi 3,1% (yoy) pada Maret, nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga Rp16.421 per USD pada Juni, IHSG melemah, dan Yield Surat Berharga Negara (SBN) juga naik ke level 7,2%. Akibatnya penerimaan negara terkontraksi sebesar 6,2% (yoy).
Dalam Konferensi APBN 2024, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, bahwa pendapatan negara pada tahun 2024 mencapai Rp2.842,5 triliun, tumbuh sebesar 2,1% (yoy). Sementara itu, belanja negara tercatat sebesar Rp3.350,3 triliun, atau meningkat 7,3% (yoy).
Baca Juga: Pendapatan Negara di Sepanjang 2024 Tembus Rp2.842,5 Triliun, Berikut Rinciannya
Meskipun terdapat defisit APBN sebesar Rp507,8 triliun, atau setara dengan 2,29% dari PDB, tetapi kondisi APBN 2024 dinilai tetap terkendali di tengah ketidakpastian global.
Secara rinci, pada semester I 2024 perekonomian Indonesia menghadapi tekanan berat seperti situasi geopolitik, fenomena El Nino, dan fluktuasi harga komoditas. Beberapa kondisi krusial pun terjadi seperti inflasi 3,1% (yoy) pada Maret, nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga Rp16.421 per USD pada Juni, IHSG melemah, dan Yield Surat Berharga Negara (SBN) juga naik ke level 7,2%. Akibatnya penerimaan negara terkontraksi sebesar 6,2% (yoy).
Lihat Juga :