Strategi untuk Keandalan Laporan Keuangan dan Kepercayaan Bisnis
Minggu, 26 Januari 2025 - 06:48 WIB
“Tapi jujur saja, menerapkan ICoFR itu tidak selalu mudah. Ada beberapa tantangan besar yang sering kami temui. Seperti di antaranya, kompleksitas regulasi terkait, bagaimana menerjemahkan aturan yang detail menjadi langkah operasional di mana proses ini bukan hal yang instan. Kemudian kesenjangan keterampilan, banyak organisasi yang masih menghadapi keterbatasan SDM yang benar-benar paham soal pengendalian internal,” jelas Angela.
Lalu terkait adaptasi teknologi di mana sistem informasi tentu harus diperbaharui agar sesuai standar regulasi dan ini butuh investasi. Ia menekankan, soal perubahan budaya organisasi yang menjadi salah satu tantangan untuk mengubah kebiasaan di semua level agar accountable.
Dalam menghadapi berbagai tantangan ini Angela Simatupang menyampaikan, bahwa solusinya adalah kembali kepada 3 hal penting, yakni komitmen dari pimpinan, investasi di kebijakan, teknologi, dan pelatihan, serta pemantauan rutin.
“Pertama, komitmen dari pimpinan. Kalau direksi dan dewan komisaris sudah sepakat mendukung maka separuh tantangan sudah selesai. Kedua, investasi di kebijakan dan teknologi dan pelatihan - ini semua dasar untuk memastikan bahwa ICoFR bisa berjalan efektif. Ketiga, pemantauan yang rutin. Jangan lupa, pengendalian itu bukan sesuatu yang sifatnya one time, tapi harus selalu dievaluasi dan diperbaiki,” lanjutnya.
Dalam webinar yang sama, GMB Daniel Probo, Partner Governance Risk Control Consulting RSM Indonesia, juga memberikan panduan strategis untuk memastikan keberhasilan ICoFR.
“Penerapan kebijakan dan prosedur pengendalian internal yang terintegrasi, dukungan sistem informasi yang memadai, serta pembentukan unit khusus untuk pencegahan kecurangan adalah langkah penting. Selain itu, evaluasi berkelanjutan atas efektivitas pengendalian internal menjadi faktor krusial dalam menjaga akurasi dan keandalan laporan keuangan," ungkap Daniel.
Daniel juga menyoroti pentingnya partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan dalam memastikan pengendalian internal berjalan optimal. "Keberhasilan ICoFR tidak dapat dicapai tanpa keterlibatan semua pihak, dari pimpinan hingga staf operasional," tambahnya.
Lalu terkait adaptasi teknologi di mana sistem informasi tentu harus diperbaharui agar sesuai standar regulasi dan ini butuh investasi. Ia menekankan, soal perubahan budaya organisasi yang menjadi salah satu tantangan untuk mengubah kebiasaan di semua level agar accountable.
Dalam menghadapi berbagai tantangan ini Angela Simatupang menyampaikan, bahwa solusinya adalah kembali kepada 3 hal penting, yakni komitmen dari pimpinan, investasi di kebijakan, teknologi, dan pelatihan, serta pemantauan rutin.
“Pertama, komitmen dari pimpinan. Kalau direksi dan dewan komisaris sudah sepakat mendukung maka separuh tantangan sudah selesai. Kedua, investasi di kebijakan dan teknologi dan pelatihan - ini semua dasar untuk memastikan bahwa ICoFR bisa berjalan efektif. Ketiga, pemantauan yang rutin. Jangan lupa, pengendalian itu bukan sesuatu yang sifatnya one time, tapi harus selalu dievaluasi dan diperbaiki,” lanjutnya.
Dalam webinar yang sama, GMB Daniel Probo, Partner Governance Risk Control Consulting RSM Indonesia, juga memberikan panduan strategis untuk memastikan keberhasilan ICoFR.
“Penerapan kebijakan dan prosedur pengendalian internal yang terintegrasi, dukungan sistem informasi yang memadai, serta pembentukan unit khusus untuk pencegahan kecurangan adalah langkah penting. Selain itu, evaluasi berkelanjutan atas efektivitas pengendalian internal menjadi faktor krusial dalam menjaga akurasi dan keandalan laporan keuangan," ungkap Daniel.
Daniel juga menyoroti pentingnya partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan dalam memastikan pengendalian internal berjalan optimal. "Keberhasilan ICoFR tidak dapat dicapai tanpa keterlibatan semua pihak, dari pimpinan hingga staf operasional," tambahnya.
Lihat Juga :