Penghinaan AS Terhadap G20 Afrika Selatan Bisa Jadi Hadiah bagi Negara-negara BRICS

Kamis, 20 Februari 2025 - 17:21 WIB
Meskipun ada perpecahan, Afrika Selatan bertekad untuk terus mencari konsensus di antara negara-negara G20 sebelum November. Negara tersebut berupaya mendukung agenda reformasi multilateral yang lebih inklusif, termasuk di dalamnya perombakan lembaga-lembaga seperti G20 dan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Afrika Selatan berharap negara-negara di Global South dapat memiliki peran yang lebih besar dalam urusan dunia, dan tidak hanya menjadi catatan kaki dalam sistem internasional yang sudah ada.

"Sangat penting bahwa lembaga-lembaga pasca Perang Dunia II ini berevolusi untuk mewakili tatanan global baru di mana suara Global South tidak hanya menjadi catatan kaki, tetapi juga menjadi pusat dari urusan dunia," ungkap juru bicara urusan luar negeri Afrika Selatan, Chrispin Phiri, dalam sebuah pernyataan kepada Bloomberg, dikutip Kamis (20/2/2025).

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Afrika Selatan semakin memuncak pada bulan lalu, saat Ramaphosa mengumumkan telah menandatangani undang-undang pengambilalihan tanah. Kebijakan ini memicu protes dari Trump dan penasihatnya, Elon Musk, yang menuduh Afrika Selatan telah merampas tanah dari petani kulit putih.

Sebagai reaksi, Trump membatalkan bantuan kepada negara tersebut dan menawarkan status pengungsi kepada minoritas Afrika yang relatif memiliki hak istimewa di sana.

Langkah AS untuk menarik diri dari sejumlah organisasi internasional, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dewan Hak Asasi Manusia (HAM), dan perjanjian iklim Paris, menambah ketegangan. Keputusan-keputusan ini mencerminkan upaya AS untuk merombak tatanan dunia yang selama ini diatur oleh lembaga-lembaga multilateral yang juga menguntungkan negara tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!