Raksasa Gas Rusia Gazprom Berjuang Bangkit usai Menelan Kerugian Rp210,5 Triliun

Jum'at, 21 Maret 2025 - 11:18 WIB
Sebuah laporan internal Gazprom yang diperoleh oleh Financial Times tahun lalu menunjukkan, grup ini kemungkinan tidak dapat memulihkan pendapatan dari sektor ekspor sebelum perang hingga tahun 2035. Alasannya karena Gazprom masih berjuang menemukan alternatif untuk pasar Eropa yang menguntungkan.

Perusahaan mulai memangkas biaya sebagai akibat dari kerugian yang terus berlanjut, setelah bertahun-tahun menikmati pendapatan energi yang sangat besar.

Pada bulan Januari, Gazprom mengkonfirmasi sedang mempertimbangkan untuk memberhentikan staf administrasi di tengah laporan jumlah karyawan terancam berkurang hingga 40%.

Tahun lalu, Gazprom juga mengutarakan pihaknya telah menjual beberapa aset properti mewahnya, termasuk berbagai hotel milik Gazprom, yang biasanya digunakan untuk memberi penghargaan kepada karyawan dengan liburan dan untuk menyelenggarakan konferensi.

Menurut sebuah laporan Reuters, Gazprom sedangkan mempertimbangkan untuk menjual kantor pusat ekspor bergaya palazzo di St Petersburg, akibat langsung dari penurunan permintaan ke Barat. Gazprom Export telah memangkas jumlah karyawan dari 600 sebelum invasi ke Ukraina menjadi hanya tersisa beberapa lusin.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!