AS dan China Saling Serang, Trump Ancam Gebuk Tarif Tambahan 50%
Selasa, 08 April 2025 - 07:16 WIB
Wall Street pun ketakutan akan terjadi perang dagang yang lebih besar, dengan para ekonom memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan bahkan berpotensi memicu resesi. Dalam unggahannya di media sosial yang mengancam akan menambah tarif baru untuk China, Trump menambahkan bahwa ia berencana untuk memulai negosiasi dengan negara lain.
Baca Juga: China Balas Tarif Impor 34% Semua Barang dari AS, Trump: Mereka Panik!
Dalam postingan terpisah di Truth Social, Trump juga mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba untuk memulai negosiasi perdagangan. "Mereka telah memperlakukan AS dengan sangat buruk dalam hal perdagangan dan mereka tidak mengambil mobil kami, tetapi kami mengambil jutaan mobil mereka," ujar Trump.
Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, menyarankan agar negara-negara melakukan lebih dari sekedar menurunkan tarif mereka sendiri untuk mencapai kesepakatan, dengan mengatakan bahwa mereka harus melakukan perubahan struktural pada kode pajak dan peraturan mereka.
"Mari kita ambil contoh Vietnam," katanya kepada CNBC. "Ketika mereka datang kepada kami dan berkata, kami akan menerapkan tarif nol itu tidak ada artinya bagi kami karena yang penting adalah kecurangan non-tarif."
Baca Juga: China Balas Tarif Impor 34% Semua Barang dari AS, Trump: Mereka Panik!
Dalam postingan terpisah di Truth Social, Trump juga mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba untuk memulai negosiasi perdagangan. "Mereka telah memperlakukan AS dengan sangat buruk dalam hal perdagangan dan mereka tidak mengambil mobil kami, tetapi kami mengambil jutaan mobil mereka," ujar Trump.
Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, menyarankan agar negara-negara melakukan lebih dari sekedar menurunkan tarif mereka sendiri untuk mencapai kesepakatan, dengan mengatakan bahwa mereka harus melakukan perubahan struktural pada kode pajak dan peraturan mereka.
"Mari kita ambil contoh Vietnam," katanya kepada CNBC. "Ketika mereka datang kepada kami dan berkata, kami akan menerapkan tarif nol itu tidak ada artinya bagi kami karena yang penting adalah kecurangan non-tarif."
(nng)
Lihat Juga :