Rupiah Melemah ke Rp16.826 per Dolar AS, Masih Dipicu Tarif Impor Trump
Selasa, 15 April 2025 - 16:03 WIB
Menurut BI, kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Peningkatan ini terjadi di tengah upaya Bank Indonesia melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
Baca Juga: Keluarga Donald Trump Fokus Tambang Kripto dengan Keuntungan Rp16,7 Triliun, Berikut 6 Faktanya
Posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2025 tersebut dinilai sangat memadai. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Ke depan, BI memandang posisi cadangan devisa akan tetap memadai, didukung oleh prospek ekspor yang terjaga, perkiraan surplus neraca transaksi modal dan finansial, serta persepsi positif investor terhadap perekonomian Indonesia. BI juga akan terus bersinergi dengan Pemerintah untuk memperkuat ketahanan eksternal demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.810 - Rp16.870 per dolar AS.
Baca Juga: Keluarga Donald Trump Fokus Tambang Kripto dengan Keuntungan Rp16,7 Triliun, Berikut 6 Faktanya
Posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2025 tersebut dinilai sangat memadai. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Ke depan, BI memandang posisi cadangan devisa akan tetap memadai, didukung oleh prospek ekspor yang terjaga, perkiraan surplus neraca transaksi modal dan finansial, serta persepsi positif investor terhadap perekonomian Indonesia. BI juga akan terus bersinergi dengan Pemerintah untuk memperkuat ketahanan eksternal demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.810 - Rp16.870 per dolar AS.
(nng)
Lihat Juga :