Sinyal The Fed Pangkas Suku Bunga, Harga Bitcoin Cetak Rekor Nyaris Rp2 Miliar

Kamis, 14 Agustus 2025 - 19:50 WIB
Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan kondisi saat ini sebagai titik kritis yang menggabungkan sentimen makro dan fundamental pasar kripto. "Kita sedang melihat pertemuan dua faktor besar inflasi yang mulai terkendali di bawah ekspektasi pasar, dan peluang pemangkasan suku bunga yang sangat tinggi. Kombinasi ini menciptakan kondisi di mana modal global lebih berani masuk ke aset berisiko, termasuk kripto," ujarnya pada Kamis (14/8).

Menurut Antony, rekor baru Bitcoin di level USD124.000 bukan sekadar hasil optimisme jangka pendek, tetapi akumulasi kepercayaan pasar terhadap peran Bitcoin di masa depan. Ia mencontohkan langkah MicroStrategy dan sejumlah raksasa keuangan yang mengalihkan sebagian kas ke Bitcoin sebagai sinyal perubahan lanskap investasi global. “Mereka mengirim pesan bahwa Bitcoin bisa berfungsi sebagai lindung nilai terhadap kebijakan moneter dan inflasi dalam jangka panjang,” katanya.

Meski demikian, Antony mengingatkan bahwa euforia pasar tidak boleh mengaburkan risiko inheren aset kripto. Reli besar, kata dia, kerap diikuti oleh koreksi tajam. "Investor yang hanya mengejar kenaikan tanpa strategi keluar sama saja dengan masuk ke arena dengan mata tertutup,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa volatilitas bukanlah hal yang perlu dihindari, melainkan dikelola dengan strategi. "Banyak investor baru ingin volatilitas hilang, padahal justru di sanalah peluang berada. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca pola dan menetapkan batas risiko yang jelas," tutur Antony.

Baca Juga: IHSG Hari Ini Ditutup Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Nilai Transaksi Rp18,53 T
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!