BRICS Dilanda Isu Skandal Korupsi Elite, Para Pemimpinnya Sembunyikan Miliaran Dolar di Bank Swiss

Selasa, 26 Agustus 2025 - 07:39 WIB
Tuli menegaskan, kekayaan tersebut telah mengalir dan tersimpan di luar negeri selama beberapa dekade. Hal ini kontras dengan kondisi di dalam negeri BRICS, di mana kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin mencapai tingkat yang sangat parah. Menurutnya, kesenjangan ini sepuluh kali lipat lebih lebar dibandingkan yang terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Selain dugaan korupsi, Tuli juga menyoroti ironi lain yang terjadi di dalam aliansi ini. Ia mengamati bahwa volume bisnis yang dilakukan di antara negara-negara anggota BRICS justru lebih sedikit ketimbang volume bisnis mereka dengan negara-negara Barat.

"Mereka melakukan lebih sedikit bisnis di antara mereka sendiri dibandingkan dengan negara-negara Barat," kata dia.

Lebih lanjut, artikel tersebut menyoroti rasa haus kekuasaan dan ego besar yang mendominasi sebagian anggota BRICS. Tuli mencatat, sejumlah negara, seperti Rusia, China, dan Iran, menghabiskan miliaran dolar untuk persenjataan. Menurutnya, belanja militer ini didorong ambisi untuk mengkonsolidasikan kekuatan dan menundukkan negara lain.

Ironi lebih jauh terlihat dari hubungan antara dua anggota pendiri, yaitu India dan China. Meskipun berada dalam satu aliansi, Tuli menyebut bahwa India menghabiskan dana besar untuk persenjataan demi melindungi diri dari Tiongkok dan sekutunya, Pakistan. Situasi ini menunjukkan bahwa hubungan bisnis di antara anggota BRICS bisa dibilang stagnan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!