Ekonomi Inggris di Ambang Kolaps, Krisis 1976 Bakal Terulang?
Selasa, 26 Agustus 2025 - 16:29 WIB
Peringatan ini mencuat hanya beberapa minggu sebelum Reeves dijadwalkan bakal mempresentasikan anggaran musim gugur yang pertama, di mana dia diprediksi bakal mengumumkan kenaikan pajak lebih lanjut untuk menutupi kekurangan – sebuah langkah yang dikritik oleh para penentangnya.
Apa yang dilakukan Reeves disebut akan memperburuk pelemahan. Pemerintah juga menghadapi tantangan politik dan ekonomi yang semakin dalam, termasuk dukungan yang menyusut. Baca Juga: Ekonomi Jerman Jatuh dalam Krisis Struktural, Eropa Goyah?
Pada akhir pekan kemarin, pemimpin Reform UK, Nigel Farage menyatakan, bahwa apa yang terjadi lagi seperti "tahun 1970-an," sementara pemimpin Konservatif Kemi Badenoch menggambarkan biaya pinjaman yang melambung sebagai dampak yang harus dibayar dari "pengelolaan ekonomi yang buruk" oleh Partai Buruh.
Disebut juga London telah berjanji bakal meningkatkan belanja militer menjadi 2,5% dari PDB pada tahun 2027, sejalan dengan komitmen NATO. Inggris tetap menjadi salah satu pendukung Ukraina yang paling antusias, mengirimkan miliaran dolar dalam bentuk bantuan militer dan keuangan. Kondisi tersebut diyakini semakin menekan keuangan publik yang sudah ketat.
Apa yang dilakukan Reeves disebut akan memperburuk pelemahan. Pemerintah juga menghadapi tantangan politik dan ekonomi yang semakin dalam, termasuk dukungan yang menyusut. Baca Juga: Ekonomi Jerman Jatuh dalam Krisis Struktural, Eropa Goyah?
Pada akhir pekan kemarin, pemimpin Reform UK, Nigel Farage menyatakan, bahwa apa yang terjadi lagi seperti "tahun 1970-an," sementara pemimpin Konservatif Kemi Badenoch menggambarkan biaya pinjaman yang melambung sebagai dampak yang harus dibayar dari "pengelolaan ekonomi yang buruk" oleh Partai Buruh.
Disebut juga London telah berjanji bakal meningkatkan belanja militer menjadi 2,5% dari PDB pada tahun 2027, sejalan dengan komitmen NATO. Inggris tetap menjadi salah satu pendukung Ukraina yang paling antusias, mengirimkan miliaran dolar dalam bentuk bantuan militer dan keuangan. Kondisi tersebut diyakini semakin menekan keuangan publik yang sudah ketat.
(akr)
Lihat Juga :