Sanksi Barat Dicabut, Suriah Ekspor Minyak Lagi setelah Mandeg 14 Tahun
Selasa, 02 September 2025 - 21:30 WIB
Pergeseran penting terjadi pada akhir Juni lalu ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencabut sanksi untuk membuka jalur investasi AS di sektor energi negara tersebut. Pada Mei, Pemerintah Suriah dan operator pelabuhan global asal Dubai, DP World, juga telah menandatangani perjanjian senilai USD800 juta untuk mengembangkan Pelabuhan Tartus. Selain itu, pada awal Agustus, Irak dan Suriah telah membahas rencana menghidupkan kembali pipa minyak Kirkuk-Baniyas yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut minyak mentah Irak ke Eropa melalui Suriah.
Sebelum pecahnya perang saudara pada 2011, minyak adalah tulang punggung perekonomian Suriah, menyumbang hingga 25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan menghasilkan pendapatan tahunan hampir USD3 miliar. Negara ini mampu mengekspor sekitar 380.000 barel per hari.
Namun, perang mengubah segalanya. Produksi minyak anjlok drastis hingga sekitar 25.000 barel per hari pada 2014, menurut analisis US Energy Information Association (EIA) pada 2015. Penurunan tajam ini disebabkan oleh kerusakan parah pada infrastruktur, seperti jaringan listrik dan kilang gas, setelah ISIS menguasai ladang-ladang minyak utama.
Baca Juga: Ditembak 3 Kali, Diplomat Indonesia Meninggal di Peru
Selain itu, sanksi Barat juga menghentikan sebagian besar ekspor dan melumpuhkan kemampuan Suriah untuk mengimpor produk olahan. Akibatnya, negara itu menjadi sangat bergantung pada pasokan minyak diskon atau gratis dari Iran, mengimpor sekitar 60.000 barel per hari pada tahun-tahun setelah 2011. Kilang domestik di Baniyas dan Homs juga beroperasi jauh di bawah kapasitas.
Sebelum pecahnya perang saudara pada 2011, minyak adalah tulang punggung perekonomian Suriah, menyumbang hingga 25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan menghasilkan pendapatan tahunan hampir USD3 miliar. Negara ini mampu mengekspor sekitar 380.000 barel per hari.
Namun, perang mengubah segalanya. Produksi minyak anjlok drastis hingga sekitar 25.000 barel per hari pada 2014, menurut analisis US Energy Information Association (EIA) pada 2015. Penurunan tajam ini disebabkan oleh kerusakan parah pada infrastruktur, seperti jaringan listrik dan kilang gas, setelah ISIS menguasai ladang-ladang minyak utama.
Baca Juga: Ditembak 3 Kali, Diplomat Indonesia Meninggal di Peru
Selain itu, sanksi Barat juga menghentikan sebagian besar ekspor dan melumpuhkan kemampuan Suriah untuk mengimpor produk olahan. Akibatnya, negara itu menjadi sangat bergantung pada pasokan minyak diskon atau gratis dari Iran, mengimpor sekitar 60.000 barel per hari pada tahun-tahun setelah 2011. Kilang domestik di Baniyas dan Homs juga beroperasi jauh di bawah kapasitas.
(nng)
Lihat Juga :