Keuangan Gudang Garam Babak Belur di Tengah Isu Viral PHK Buruh

Minggu, 07 September 2025 - 19:32 WIB
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan melalui keterbukaan informasi BEI, penurunan laba tersebut karena pendapatan GGRM hingga Juni 2025 turun 11,4% jadi Rp 44,3 triliun dari perolehan Juni 2024 yang sebesar Rp50,01 triliun.

Biaya pokok pendapatan juga turun menjadi Rp40,5 triliun. Maka laba kotor GGRM hingga Juni 2025 turun menjadi Rp 3,7 triliun dari Juni 2024 yang sebesar Rp5,06 triliun. Laba usaha GGRM hingga semester pertama juga anjlok signifikan menjadi Rp513,7 miliar dari Juni 2024 yang sebesar Rp 1,613 triliun.

Penurunan tersebut karena pendapatan lainnya turun jadi Rp148,7 miliar, sedangkan penurunan beban usaha hanya 5% jauh lebih kecil dari penurunan pendapatan dan menjadi Rp3,4 triliun. Sementara itu beban lainnya malah naik jadi Rp2,3 miliar, dan perusahaan membukukan rugi kurs Rp1,7 miliar dari sebelumnya mencatat laba Rp 39,3 miliar.

Sebelumnya disebutkan Petani tembakau di Temanggung mengungkap ada beberapa pabrikan yang menghentikan pembelian tembakau pada petani, seperti Gudang Garam serta Nojorono yang memproduksi rokok kenamaan seperti Clas Mild.

Untuk diketahui, Gudang Garam merupakan sebuah perusahaan milik keluarga Wonowidjojo melalui perusahaan induk PT Suryaduta Investama, yang menguasai 69,29% saham. Konglomerat Susilo Wonowidjojo menjadi pemegang saham utama sekaligus generasi kedua penerus bisnis yang dirintis Surya Wonowidjojo pada 1958.

Pada tanggal 27 Agustus 1990, perusahaan ini resmi menjadi perusahaan publik, dengan melepas 57 juta saham di Bursa Efek Jakarta dan 96 juta saham di Bursa Efek Surabaya, dengan penawaran perdana pada harga Rp 10.250/lembar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!